Oleh : Prof. Dr. Suwarsih
Madya (Universitas Negeri Yogyakarta)
Penelitian
tindakan merupakan intervensi praktik dunia nyata yang ditujukan untuk
meningkatkan situasi praktis. Tentu penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru ditujukan untuk meningkatkan situasi
pembelajaran yang menjadi tanggung jawabnya dan ia disebut ’penelitian tindakan
kelas’ atau PTK.
Karena situasi kelas
sangat dinamis dalam konteks kehidupan sekolah yang dinamis pula, apakah
peneliti perlu menyesuaikan diri dengan dinamika yang
ada? Benar. Anda memang dituntut untuk adaptif dan fleksibel agar kegiatan PTK Anda selaras
dengan situasi yang ada, tetapi tetap mampu menjaga agar proses mengarah pada
tercapainya perbaikan.
PENELITIAN
TINDAKAN KELAS
Oleh : Prof. Dr. Suwarsih Madya
Pendahuluan
Anda adalah guru
yang sudah banyak jam terbangnya, bukan? Pasti Anda punya banyak pengalaman, baik manis maupun pahit, dalam mengajar. Pengalaman manis dapat Anda
rasakan ketika siswa-siswa Anda berhasil meraih prestasi, yang sebagian
merupakan kontribusi Anda. Dan, Anda pasti menginginkan siswa-siswa Anda selalu
berhasil meraih prestasi terbaik. Namun, mungkin keinginan Anda yang mulia
tersebut lebih sering tidak tercapai karena berbagai alasan. Misalnya, mungkin
Anda sering menemukan siswa-siswa tidak bersemangat, kurang termotivasi, kurang
percaya diri, kurang disiplin, kurang bertanggung jawab dsb. Pasti Anda sudah
melakukan upaya untuk mengatasinya, tetapi mungkin hasilnya masih jauh dari
yang Anda inginkan.
Dan Anda masih ingin mengatasi masalah-masalah yang Anda temukan di kelas,
bukan? Mengapa tidak mencoba mengatasinya lewat suatu kegiatan penelitian
tindakan? Mendengar kata ’penelitian’ mungkin Anda ingat pengalaman pahit
ketika dulu meneliti untuk skripsi Anda karena harus mengembangkan instrumen
yang berkali-kali direvisi atas saran dosen pembimbing, harus minta ijin ke
sana ke sini, harus terjun ke lapangan menemui responden, yang tidak selalu
menyambut dengan ramah kedatangan Anda, harus kecewa karena angket tidak
semua dikembalikan, harus menganalisis data dan seirng tersandung masalah
statistik, dan setelah analisis selesai, harus kecewa karena hasilnya tidak
selalu siap dipraktikkan di dunia nyata. dsb. Singkatnya, kegiatan
penelitian tidak mudah karena pertanggungjawaban teoretisnya cukup berat.
Anda tidak perlu mengalami itu semua ketika Anda melakukan penelitian
tindakan. Mengapa? Karena jenis penelitian ini memang berbeda dengan jenis
penelitian lain. Kalau jenis penelitian lain layaknya dilakukan oleh para
ilmuwan di kampus atau lembaga penelitian, penelitian tindakan layaknya
dilakukan oleh para praktisi, termasuk Anda sebagai guru. Kalau jenis
penelitian lainnya untuk mengembangkan teori, penelitian tindakan ditujukan
untuk meningkatkan praktik lapangan. Jadi penelitian tindakan adalah jenis
penelitian yang cocok untuk para praktisi, termasuk guru.
Mari kita bicarakan hal ikhwal tentang penelitian tindakan. Kalau Anda
pernah mempelajarinya, pembicaraan ini berfungsi untuk menyegarkan kembali atau
memperkaya apa yang telah Anda ketahui. Kalau Anda belum tahu banyak, lewat
pembicaraan ini Anda akan mengenalnya, memahaminya, dan akhirnya berminat untuk
melaksanakannya, untuk mencapai cita-cita Anda yang mulia, yaitu meningkatkan
keberhasilan mendidik, mengajar dan melatih murid-murid Anda, yang akan
memberikan sumbangan yang signifikan pada peningkatkan kualitas pendidikan
nasional. Seperti tercantum dalama UU No. 20/2003 tentang Sisdiknas,
Pasal 3, pendidikan nasional befungsi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, yang
merupakan salah satu tujuan kemerdekaan bangsa kita, seperti dinyatakan pada
alinea keempat Pembukaan UUD 1945. Oleh sebab itu, upaya Anda untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas merupakan amalan mulia karena
memberikan kontribusi dalam mengisi kemerdekaan yang telah direbut lewat
pengorbanan yang tidak sedikit.
Mari kita menyamakan pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan
penelitian tindakan kelas (PTK).
Apa yang Dimaksud dengan PTK dan Apa Ciri-cirinya?
Karena penelitian tindakan cocok untuk para praktisi yang bergelut dengan dunia
nyata, maka ia cocok untuk Anda sebagai guru. Anda mungkin heran kenapa istilah
’penelitian’ yang biasanya berkenaan dengan teori sekarang dijodohkan dengan
istilah ’tindakan’. Keheranan Anda tidak berlebihan karena memang jenis
penelitian ini tergolong muda dibandingkan dengan penelitian tradisional yang
telah ratusan tahun dikembangkan. Uraian beberapa butir di bawah ini akan dapat
membantu Anda dalam memahami apa yang dimaksud dengan penelitian tindakan
(Silakan baca Burns, 1999: 30; Kemmis & McTaggrt, 1982: 5; Reason &
Bradbury, 2001: 1).
Penelitian tindakan merupakan intervensi praktik
dunia nyata yang ditujukan untuk meningkatkan situasi praktis. Tentu penelitian tindakan yang dilakukan oleh guru ditujukan untuk meningkatkan situasi
pembelajaran yang menjadi tanggung jawabnya dan ia disebut ’penelitian tindakan
kelas’ atau PTK.
Apakah kegiatan penelitian tindakan tidak akan
mengganggu proses pembelajaran? Sama sekali tidak, karena justru ia dilakukan dalam proses pembelajaran
yang alami di kelas sesuai dengan jadwal. Kalau
begitu, apakah penelitian tindakan kelas (PTK) bersifat situasional, kontekstual, berskala kecil, terlokalisasi, dan secara
langsung gayut (relevan) dengan situasi nyata dalam dunia kerja? Benar. Apakah berarti bahwa subyek
dalam PTK termasuk murid-murid Anda? Benar.
Lalu bagaimana cara untuk menjaga kualitas PTK?
Apakah boleh bekerjasama dengan guru lain? Benar. Anda bisa melibatkan
guru lain yang mengajar bidang pelajaran yang
sama, yang akan berfungsi sebagai kolaborator
Anda.
Karena situasi kelas sangat dinamis dalam konteks kehidupan sekolah
yang dinamis pula, apakah peneliti perlu menyesuaikan
diri dengan dinamika yang ada? Benar.
Anda memang dituntut untuk adaptif dan fleksibel
agar kegiatan PTK Anda selaras dengan situasi yang ada, tetapi tetap mampu
menjaga agar proses mengarah pada tercapainya perbaikan. Hal ini menuntut komitmen untuk berpartisipasi
dan kerjasama dari semua orang yang terlibat,
yang mampu melakukan evaluasi diri secara kontinyu
sehingga perbaikan demi perbaikan, betapapun kecilnya,
dapat diraih. Kalau begitu, apakah diperlukan kerangka kerja agar masalah praktis dapat dipecahkan
dalam situasi nyata? Benar. Tindakan
dilaksanakan secara terencana, hasilnya direkam dan
dianalisis dari waktu ke waktu untuk dijadikan landasan
dalam melakukan modifikasi.
Apa syarat-syarat agar PTK Anda berhasil?
Untuk dapat meraih perubahan yang diinginkan melalui PTK, apakah ada
syarat-syarat lain? Betul, silakan baca McNiff, Lomax dan Whitehead (2003). Pertama, Anda dan kolaborator serta murid-murid harus
punya tekad dan komitmen untuk meningkatkan kualitas pembelajaran
dan komitmen itu terwujud dalam keterlibatan mereka
dalam seluruh kegiatan PTK secara proporsional.
Andil itu mungkin terwujud jika ada maksud yang
jelas dalam melakukan intervensi
tersebut. Kedua, Anda dan kolaborator
menjadi pusat dari penelitian sehingga dituntut untuk bertanggung
jawab atas peningkatan yang akan dicapai. Ketiga,
tindakan yang Anda lakukan hendaknya didasarkan pada pengetahun, baik
pengetahuan konseptual dari tinjauan pustaka teoretis, maupun pengetahuan
teknis prosedural, yang diperoleh lewat refleksi kritis dan dipadukan dengan
pengalaman orang lain dari tinjauan pustaka hasil penelitian tindakan),
berdasarkan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya. Refleksi kritis dapat
dilakukan dengan baik jika didukung oleh keterbukaan dan kejujuran terhadap
diri sendiri, khususnya kejujuran mengakui kelemahan/kekurangan diri. Keempat, tindakan tersebut dilakukan atas dasar
komitmen kuat dan keyakinan bahwa situasi dapat diubah ke arah perbaikan. Kelima, penelitian tindakan melibatkan pengajuan
pertanyaan agar dapat melakukan perubahan melalui tindakan yang disadari dalam
konteks yang ada dengan seluruh kerumitannya. Keenam,
Anda mesti mamantau secara sistematik agar Anda mengetahui dengan mudah arah
dan jenis perbaikan, yang semuanya berkenaan dengan pemahaman yang lebih baik
terkadap praktik dan pemahaman tentang bagaimana perbaikan ini telah terjadi.
Kutujuh, Anda perlu membuat deskripsi
otentik objektif (bukan penjelasan) tentang tindakan yang dilaksanakan dalam
riwayat faktual, perekaman video and audio, riwayat subjektif yang
diambil dari buku harian dan refleksi dan observasi pribadi, dan riwayat
fiksional. Kedelapan, Anda perlu memberi
penjelasan tentang tindakan berdasarkan deskripsi autentik tersebut di atas,
yang mencakup (1) identifikasi makna-makna yang mungkin diperoleh (dibantu)
wawasan teoretik yang relevan, pengaitan dengan penelitian lain (misalnya lewat
tinjauan pustaka di mana kesetujuan dan ketidaksetujuan dengan pakar lain perlu
dijelaskan), dan konstruksi model (dalam konteks praktik terkait) bersama
penjelasannya; (2) mempermasalahkan deskripsi terkait, yaitu secara kritis
mempertanyakan motif tindakan dan evaluasi terhadap hasilnya; dan (3)
teorisasi, yang dilahirkan dengan memberikan penjelasan tentang apa yang dilakukan
dengan cara tertentu. Kesembilan,Anda
perlu menyajikan laporan hasil PTK dalam berbagai bentuk termasuk: (1)
tulisan tentang hasil refleksi-diri, dalam bentuk catatan harian dan dialog,
yaitu percakapan dengan dirinya sendiri; (2) percakapan tertulis, yang
dialogis, dengan gambaran jelas tentang proses percakapan tersebut; (3) narasi
dan cerita; dan (4) bentuk visual seperti diagram, gambar, dan grafik. Kesepuluh, Anda perlu memvalidasi pernyataan
Anda tentang keberhasilan tindakan Anda lewat pemeriksaan kritis dengan
mencocokkan pernyataan dengan bukti (data mentah), baik dilakukan sendiri
maupun bersama teman (validasi-diri), meminta teman sejawat untuk
memeriksanya dengan masukan dipakai untuk memperbaikinya (validasi
sejawat), dan terakhir menyajikan hasil seminar dalam suatu seminar (validasi
public). Perlu dipastikan bahwa temuan validasi selaras satu sama lain karena
semuanya berdasarkan pemeriksaan terhadap penyataan dan data mentah. Jika
ada perbedaan, pasti ada sesuatu yang masih harus dicermati kembali.
Apa
yang dapat Dicapai lewat Penelitian Tindakan Kelas?
Pertanyaan
ini dapat diubah menjadi, ”Kapan Anda secara tepat dapat melakukan PTK?”
Jawabnya: Ketika Anda ingin meningkatkan kualitas
pembelajaran yang menjadi tanggung jawab Anda dan sekaligus ingin melibatkan
murid-murid Anda dalam proses pembelajaran (lihat Cohen dan Manion,
1980). Dengan kata lain, Anda ingin meningkatkan praktik pembelajaran, pemahaman
Anda terhadap praktik tersebut, dan situasi pembelajaran kelas Anda (Grundy
& Kemmis, 1982: 84). Dapat dikatakan bahwa tujuan utama PTK adalah untuk
mengubah perilaku pengajaran Anda, perilaku murid-murid Anda di kelas, dan/atau
mengubah kerangka kerja melaksanakan pembelajaran kelas Anda. Jadi, PTK
lazimnya dimaksudkan untuk mengembangkan keterampilan atau pendekatan baru
pembelajaran dan untuk memecahkan masalah dengan penerapan langsung di ruang
kelas.
PTK berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan
kualitas pelaksanaan pembelajaran kelas. Di ruangan kelas, PTK dapat berfungsi
sebagai (Cohen & Manion, 1980: 211): (a) alat untuk mengatasi
masalah-masalah yang didiagnosis dalam situasi pembelajaran di kelas; (b) alat
pelatihan dalam-jabatan, membekali guru dengan keterampilan dan metode baru dan
mendorong timbulnya kesadaran-diri, khususnya melalui pengajaran sejawat; (c)
alat untuk memasukkan ke dalam sistem yang ada (secara alami) pendekatan
tambahan atau inovatif; (d) alat untuk meningkatkan komunikasi yang biasanya
buruk antara guru dan peneliti; (e) alat untuk menyediakan alternatif bagi
pendekatan yang subjektif, impresionistik terhadap pemecahan masalah kelas. Ada dua butir penting yang perlu disebut
di sini. Pertama, hasil penelitian tindakan
dipakai sendiri oleh penelitinya, dan tentu saja oleh orang lain yang
menginginkannya. Kedua, penelitiannya terjadi
di dalam situasi nyata yang pemecahan masalahnya segera diperlukan, dan
hasil-hasilnya langsung diterapkan/dipraktikkan dalam situasi terkait. Ketiga, peneliti tindakan melakukan sendiri
pengelolaan, penelitian, dan sekaligus pengembangan.
Kriteria dalam
Penelitian Tindakan
Benarkah PTk harus memenuhi kriteria
tertentu? Benar. Seperti layaknya
penelitian, PTK harus memenuhi kriteria validitas. Akan tetapi, makna dasar
validitas untuk penelitian tindakan condong ke makna dasar validitas dalam
penelitian kualitatif, yaitu makna langsung dan lokal dari tindakan sebatas
sudut pandang peserta penelitiannya (Erickson, 1986, disitir oleh Burns,
1999). Jadi kredibilitas penafsiran peneliti dipandang lebih penting daripada
validitas internal (Davis, 1995, disitir oleh Burns, 1999). Karena PTK bersifat
transformatif, maka kriteria yang cocok adalah validitas
demokratik, validitas hasil, validitas proses, validitas katalitik, dan
validitas dialogis, yang harus dipenuhi dari awal sampai akhir
penelitian, yaitu dari refleksi awal saat kesadaran akan kekurangan muncul
sampai pelaporan hasil penelitiannya (Burns, 1999: 161-162, menyitir Anderson
dkk,1994).
Validitas: demokratik, hasil,
proses, katalitik, dan dialoguis
Validitas Demokratik berkenaan dengan kadar kekolaboratifan
penelitian dan pencakupan berbagai suara. Dalam PTk, idealnya Anda, guru
lain/pakar sebagai kolaborator, dan murid-murid Anda masing-masing diberi
kesempatan menyuarakan apa yang dipikirkan dan dirasakan serta dialaminya
selama penelitian berlangsung. Pertanyaan kunci mencakup: Apakah semua
pemangku kepentingan (stakeholders) PTK (guru, kolaborator,
administrator, mahasiswa, orang tua) dapat menawarkan pandangannya? Apakah
solusi masalah di kelas Anda memberikan manfaat kepada mereka? Apakah solusinya memiliki relevansi atau
keterterapan pada konteks kelas Anda? Semua pemangku kepentingan di atas diberi
kesempatan dan/atau didorong lewat berbagai cara yang cocok dalam situasi
budaya setempat untuk mengungkapkan pendapatnya, gagasan-gagasannya, dan
sikapnya terhadap persoalan pembelajaran kelas Anda, yang fokusnya adalah
pencarian solusi untuk peningkatan praktik dalam situasi pembelajaran kelas
Anda. Misalnya, dalam kasus penelitian tindakan kelas untuk meningkatkan
kualitas proses pembelajaran bahasa Inggris, pada tahap refleksi awal guru-guru
yang berkolaborasi untuk melakukan penelitian tindakan kelas, siswa, Kepala
Sekolah, dan juga orang tua siswa, diberi kesempatan dan/atau didorong untuk
mengungkapkan pandangan dan pendapatnya tentang situasi dan kondisi
pembelajaran bahasa Inggris di sekolah terkait. Hal ini dilakukan untuk mencapai suatu
kesepatakan bahwa memang ada kekurangan yang perlu diperbaiki dan kekurangan
tersebut perlu diperbaiki dalam konteks yang ada, atau juga disebut kesepakatan
tentang latar belakang penelitian. Selanjutnya, diciptakan proses yang sama
untuk mencapai kesepakatan tentang masalah-masalah apa yang ada, yaitu
identifikasi masalah, dan tentang masalah apa yang akan menjadi fokus
penelitian atau pembatasan masalah penelitian. Kemudian, proses yang sama
berlanjut untuk merumuskan pertanyaan penelitian atau merumuskan hipotesis
tindakan yang akan menjadi dasar bagi perencanaan tindakan, yang juga
dilaksanakan melalui proses yang melibatkan semua peserta penelitian untuk
mengungkapkan pandangan dan pendapat serta gagasan-gagasannya. Proses yang
mendorong setiap peserta penelitian untuk mengungkapkan atau menyuarakan
pandangan, pendapat, dan gagasannya ini diciptakan sepanjang penelitian
berlangsung.
Validitas Hasil mengandung konsep bahwa tindakan kelas Anda
membawa hasil yang sukses di dalam konteks PTK Anda. Hasil yang paling efektif
tidak hanya melibatkan solusi masalah tetapi juga meletakkan kembali masalah ke
dalam suatu kerangka sedemikian rupa sehingga melahirkan pertanyaan baru. Hal
ini tergambar dalam siklus penelitian pada Gambar 1 di bawah, di mana ketika
dilakukan refleksi pada akhir tindakan pemberian tugas yang menekankan kegiatan
menggunakan bahasa Inggris lewat tugas ‘information gap’, ditemukan
bahwa hanya sebagian kecil siswa menjadi aktif dan sebagian besar siswa merasa
takut salah, cemas, dan malu berbicara. Maka timbul pertanyaan baru, ‘Apa yang
mesti dilakukan untuk mengatasi agar siswa tidak takut salah, tidak cemas, dan
tidak malu sehingga dengan suka rela aktif melibatkan diri dalam kegiatan
pembelajaran?’ Hal ini menggambarkan bahwa pertanyaan baru timbul pada akhir
suatu tindakan yang dirancang untuk menjawab suatu pertanyaan, begitu
seterusnya sehingga upaya perbaikan berjalan secara bertahap, berkesinambungan
tidak pernah berhenti, mengikuti kedinamisan situasi dan kondisi. (Mohon
dicermati uraian masing-masing tahap dan kesinambungan masalah yang timbul).
Validitas hasil juga tergantung pada validitas proses pelaksanaan penelitian,
yang merupakan kriteria berikutnya.
Validitas Proses berkenaan dengan ‘keterpercayaan’ dan
‘kompetensi’, yang dapat dipenuhi dengan menjawab sederet pertanyaan berikut:
Mungkinkah menentukan seberapa memadai proses pelaksanaan PTK Anda? Misalnya,
apakah Anda dan kolaborator Anda mampu terus belajar dari proses tindakan
tersebut? Artinya, Anda dan kolaborator secara terus menerus dapat mengkritisi
diri sendiri dalam situasi yang ada sehingga dapat melihat kekurangannya dan
segera berupaya memperbaikinya. Apakah peristiwa atau perilaku dipandang dari
perspektif yang berbeda dan melalui sumber data yang berbeda agar terjaga dari
ancaman penafsiran yang ‘simplistik’ atau ‘rancu’?
Dalam kasus penelitian tindakan kelas bahasa Inggris yang disebut di atas, para
peneliti dapat menentukan indikator kelas bahasa Inggris yang aktif, mungkin
dengan menghitung berapa siswa yang aktif terlibat belajar menggunakan bahasa
Inggris untuk berkomunikasi lewat tugas-tugas yang diberikan guru, dan berapa
banyak bahasa Inggris yang diproduksi siswa, yang bisa dihitung dari jumlah
kata/kalimat yang diproduksi dan lama waktu yang digunakan siswa untuk
memproduksinya, serta adanya upaya guru memfasilitasi pemelajaran siswa.
Kemudian jika keaktifan siswa terlalu rendah yang tercermin dalam sedikitnya
ungkapan yang diproduksi, guru secara kritis merefleksi bersama kolaborator
untuk mencari sebab-sebabnya dan menentukan cara-cara mengatasinya. Kalau
diperlukan, siswa yang tidak aktif didorong untuk menyuarakan apa yang dirasakan
sehingga mereka tidak mau aktif dan siswa yang aktif diminta mengungkapkan
mengapa mereka aktif. Perlu juga ditemukan apakah ada perubahan pada diri siswa
sesuai dengan indikator bahwa para siswa berubah lewat tindakan pertama berupa
pemberian tugas ‘information gap’ dan tindakan kedua berupa pembelakuan
kriteria penilaian, dan perubahan pada diri guru dari peran pemberi pengetahuan
ke peran fasilitator dan penolong. Begitu seterusnya sehingga pemantauan
terhadap perubahan hendaknya dilakukan secara cermat dan disimpulkan lewat
dialog reflektif yang demokratik.
Perlu dicatat bahwa kompetensi peneliti dalam bidang terkait sangat menentukan
kualitas proses yang diinginkan dan tingkat kemampuan untuk melakukan
pengamatan dan membuat catatan lapangan. Dalam kasus penelitian tindakan kelas
bahasa Inggris yang dicontohkan di atas, misalnya, kualitas proses akan sangat
ditentukan oleh wawasan, pengetahuan dan pemahaman sejati peneliti
tentang (1) hakikat kompetensi komunikatif, (2) pembelajaran bahasa yang
komunikatif yang mencakup pendekatan komunikatif bersama metodologi dan
teknik-tekniknya, dan (3) karakteristik siswanya (intelegensi, gaya belajar,
variasi kognitif, kepribadian, motivasi, tingkat perkembangan/pemelajaran) dan
pengaruhnya terhadap pembelajaran bahasa asing. Jika wawasan, pengetahuan dan
pemahaman tersebut kuat, maka peneliti akan dapat dengan lebih mudah menentukan
perilaku-perilaku mana yang menunjang tercapainya perubahan yang diinginkan
dengan indikator yang tepat, dan juga perilaku-perilaku mana yang
menghambatnya.
Namun demikian, hal ini masih harus didukung dengan kemampuan untuk
mengumpulkan data, misalnya melakukan pengamatan dan membuat catatan lapangan
dan harian. Dalam mengamati, tim peneliti dituntut untuk dapat bertindak
seobjektif mungkin dalam memotret apa yang terjadi. Artinya, selama mengamati
perhatiannya terfokus pada gejala yang dapat ditangkap lewat pancainderanya
saja, yaitu apa yang didengar, dilihat, diraba (jika ada), dikecap (jika ada),
dan tercium, yang terjadi pada semua peserta penelitian, dalam kasus di atas
pada peneliti, guru dan siswa. Dalam pengamatan tersebut harus dijaga agar
jangan sampai peneliti melakukan penilaian terhadap apa yang terjadi. Seperti
telah diuraikan di depan, perlu dijaga agar tidak terjadi penyampuradukan
antara deskripsi dan penafsiran. Kemudian, diperlukan kompetensi lain untuk
membuat catatan lapangan dan harian tentang apa yang terjadi. Akan lebih baik
jika para peneliti merekamnya dengan kaset audio atau audio-visual sehingga
catatan lapangan dapat lengkap. Singkatnya, kompetensi peneliti dalam bidang
yang diteliti dan dalam pengumpulan data lewat pengamatan partisipan sangat
menentukan kualitas proses tindakan dan pengumpulan data tentang proses
tersebut.
Validitas Katalitik terkait dengan kadar pemahaman yang Anda
capai realitas kehidupan kelas Anda dan cara mengelola perubahan di dalamnya,
termasuk perubahan pemahaman Anda dan murid-murid terhadap peran masing-masing
dan tindakan yang diambil sebagai akibat dari perubahan ini.
Dalam kasus
penelitian tindakan kelas bahasa Inggris yang dicontohkan di atas, validitas
katalitik dapat dilihat dari segi peningkatan pemahaman guru terhadap
faktor-faktor yang dapat menghambat dan factor-faktor yang memfasilitasi
pembelajaran. Misalnya faktor-faktor kepribadian (lihat Brown, 2000) seperti
rasa takut salah dan malu melahirkan inhibition dan kecemasan.
Sebaliknya, upaya-upaya guru untuk mengorangkan siswa dengan mempertimbangkan
pikiran dan perasaan serta mengapresiasi usaha belajarnya merupakan faktor
positif yang memfasilitasi proses pembelajaran. Selain itu, validitas katalitik
dapat juga ditunjukkan dalam peningkatan pemahaman terhadap peran baru yang
mesti dijalani guru dalam proses pembelajaran komunikatif. Peran baru
tersebut mencakup peran fasilitator dan peran penolong serta peran pemantau
kinerja. Validitas katalitik juga tercermin dalam adanya peningkatan pemahaman
tentang perlunya menjaga agar hasil tindakan yang dilaksanakan tetap memotivasi
semua yang terlibat untuk meningkatkan diri secara stabil alami dan
berkelanjutan. Semua upaya memenuhi tuntutan validitas katalitik ini
dilakukan melalui siklus perencanaan tindakan, pelaksanaan, observasi,
dan refleksi.
Validitas
Dialogik sejajar dengan
proses review sejawat yang umum dipakai dalam penelitian akademik. Secara khas,
nilai atau kebaikan penelitian dipantau melalui tinjauan sejawat untuk
publikasi dalam jurnal akademik. Sama halnya, review sejawat dalam PTK berarti
dialog dengan guru-guru lain, bisa lewat sarasehan atau dialog reflektif dengan
‘teman yang kritis’ atau pelaku PTK lainnya, yang semuanya dapat
bertindak sebagai ‘jaksa tanpa kompromi’.
Kriteria validitas dialogis ini dapat juga mulai dipenuhi ketika penelitian
masih berlangsung, yaitu secara beriringan dengan pemenuhan kriteria
demokratik. Yaitu, setelah seorang peserta mengungkapkan pandangan, pendapat,
dan/atau gagasannya, dia akan meminta peserta lain untuk menanggapinya secara
kritis sehingga terjadi dialog kritis atau reflektif. Dengan demikian,
kecenderungan untuk terlalu subjektif dan simplistik akan dapat dikurangi
sampai sekecil mungkin. Untuk memperkuat validitas dialogik, seperti telah
disebut di atas, proses yang sama dilakukan dengan sejawat peneliti tindakan
lainnya, yang jika memerlukan, diijinkan untuk memeriksa semua data mentah yang
terkait dengan yang sedang dikritisi.
Trianggulasi untuk Mengurangi Subjektivitas
Bagaimana Anda meningkatkan validitas PTK
Anda? Tidak lain dengan meminimalkan subjektivitas
melalui trianggulasi. Anda sebagai pelaku PTK dapat menggunakan metode
ganda dan perspektif kolaborator Anda untuk memperoleh gambaran kaya yang
lebih objektif. Bentuk lain dari trianggulasi adalah: trianggulasi
waktu, trianggulasi ruang, trianggulasi peneliti, dan trianggulasi teoretis (Burns, 1999: 164).
Trianggulasi waktu dapat dilakukan dengan mengumpulkan data dalam waktu yang
berbeda, sedapat mungkin meliputi rentangan waktu tindakan dilaksanakan dengan
frekuensi yang memadai untuk menjamin bahwa efek perilaku tertentu bukan hanya
suatu kebetulan. Misalnya, data tentang proses pembelajaran dengan seperangkat
teknik tertentu dapat dikumpulkan pada jam awal, tengah dan siang pada hari
yang berbeda dan jumlah pengamatan yang memadai, katakanlah 4-5 kali.
Trianggulasi peneliti dapat dilakukan dengan pengumpulan data yang sama
oleh beberapa peneliti sampai diperoleh data yang relatif konstan.
Misalnya, dua atau tiga peserta penelitian dapat mengamati proses pembelajaran
yang sama dalam waktu yang sama pula. Trianggulasi ruang dapat dilakukan dengan
mengumpulkan data yang sama di tempat yang berbeda. Dalam contoh proses
pembelajaran bahasa Inggris di atas, ada dua atau tiga kelas yang dijadikan
ajang penelitian yang sama dan data yang sama dikumpulkan dari kelas-kelas
tersebut. Trianggulasi teoretis dapat dilakukan dengan memaknai gejala perilaku
tertentu dengan dituntun oleh beberapa teori yang berbeda tetapi terkait.
Misalnya, perilaku tertentu yang menyiratkan motivasi dapat ditinjau dari teori
motivasi aliran yang berbeda: aliran behavioristik, kognitif, dan
konstruktivis.
Reliabilitas
Reliabilitas data PTK Anda secara hakiki memang rendah. Mengapa? Karena situasi
PTk terus berubah dan proses PTK bersifat transformatif tanpa kendali apapun
(alami) sehingga sulit untuk mencapai tingkat reliabilitas yang tinggi, padahal
tingkat reliabilitias tinggi hanya dapat dicapai dengan mengendalikan hampir
seluruh aspek situasi yang dapat berubah (variabel) dan hal ini tidak mungkin
atau tidak baik dilakukan dalam PTK. Mengapa tidak mungkin? Karena akan
bertentangan dengan ciri khas penelitian tindakan itu sendiri, yang salah
satunya adalah kontekstual/situasional dan terlokalisasi, dengan perubahan yang
menjadi tujuannya. Penilaian peneliti menjadi salah satu tumpuan reliabilitas
PTK. Cara-cara meyakinkan orang atas reliabilitas PTK termasuk: menyajikan
(dalam lampiran) data asli seperti transkrip wawancara dan catatan
lapangan (bila hasil penelitian dipublikasikan), menggunakan lebih dari satu
sumber data untuk mendapatkan data yang sama dan kolaborasi dengan sejawat atau
orang lain yang relevan.
Kelebihan dan Kekurangan PTK
PTK memiliki kelebihan berikut (Shumsky,
1982): (1) tumbuhnya rasa memiliki melalui kerja sama dalam PTK; (2) tumbuhnya
kreativitias dan pemikiran kritis lewat interaksi terbuka yang bersifat
reflektif/evaluatif dalam PTK;
(3) dalam
kerja sama ada saling merangsang untuk berubah; dan (4) meningkatnya
kesepakatan lewat kerja sama demokratis dan dialogis dalam PTK (silakan lihat
Passow, Miles, dan Draper, 1985).
PTK Anda juga memiliki kelemahan: (1)
kurangnya pengetahuan dan keterampilan dalam teknik dasar penelitian pada Anda
sendiri karena terlalu banyak berurusan dengan hal-hal praktis, (2)
rendahnya efisiensi waktu karena Anda harus punya komitmen peneliti untuk
terlibat dalam prosesnya sementara Anda masih harus melakukan tugas rutin
; (3) konsepsi proses kelompok yang menuntut pemimpin kelompok yang
demokratis dengan kepekaan tinggi terhadap kebutuhan dan keinginan anggota-anggota
kelompoknya dalam situasi tertentu, padahal tidak mudah untuk mendapatkan
pemimimpin demikian.
Persyaratan Keberhasilan PTK
Agar PTK berhasil, persyaratan berikut harus dipenuhi (Hodgkinson, 1988):
(1) kesediaan untuk mengakui kekurangan diri; (2) kesempatan yang memadai untuk
menemukan sesuatu yang baru; (3) dorongan untuk mengemukakan gagasan baru; (4)
waktu yang tersedia untuk melakukan percobaan; (5) kepercayaan timbal balik
antar orang-orang yang terlibat; dan (6)pengetahuan tentang dasar-dasar proses
kelompok oleh peserta penelitian.
Penelitian Tindakan
Kolaboratif
Kolaborasi atau kerja
sama perlu dan penting dilakukan dalam PTK karena PTK yang dilakukan secara
perorangan bertentangan dengan hakikat PTK itu sendiri (Burns, 1999). Beberapa
butir penting tentang PTK kolaboratif Kemmis dan McTaggart (1988:
5; Hill & Kerber, 1967, disitir oleh Cohen & Manion, 1985, dalam
Burns, 1999: 31): (1) penelitian tindakan yang
sejati adalah penelitian tindakan kolaboratif, yaitu yang dilakukan oleh
sekelompok peneliti melalui kerja sama dan kerja bersama, (2) penelitian kelompok tersebut dapat dilaksanakan
melalui tindakan anggota kelompok perorangan yang diperiksa secara kritis
melalui refleksi demokratik dan dialogis; (3) optimalisasi
fungsi PTK kolaboratif dengan mencakup gagasan-gagasan dan harapan-harapan
semua orang yang terlibat dalam situasi terkait; (4)
pengaruh langsung hasil PTK pada Anda sebagai guru dan murid-murid Anda serta
sekaligus pada situasi dan kondisi yang ada.
Kolaborasi atau kerja
sama dalam melakukan penelitian tindakan dapat dilakukan dengan: mahasiswa;
sejawat dalam jurusan/sekolah/lembaga yang sama; sejawat dari lembaga/sekolah
lain; sejawat dengan wilayah keahlian yang berbeda (misalnya antara guru
dan pendidik guru, antara guru dan peneliti; antara guru dan manajer);
sejawat dalam disiplin ilmu yang berbeda (misalnya antara guru bahasa asing dan
guru bahasa ibu); dan sejawat di negara lain (Wallace, 1998).
2. PTK Anda hendaknya benar-benar memanfaatkan
keterampilan, minat dan keterlibatan Anda sebagai guru dan sejawat;
3. PTK Anda hendaknya terpusat pada masalah-masalah
pembelajaran kelas Anda, yang ditemukan dalam kenyataan sehari-hari. Namun
demikian, hasil PTK Anda daapt juga memberikan masukan untuk pengembangan teori
pembelajaran bidang studi Anda;
4. Metodologi PTK Anda hendaknya ditentukan dengan
mempertimbangkan persoalan pembelajaran kelas Anda yang sedang diteliti, sumber
daya yang ada dan murid-murid sebagai sasaran penelitian.
5. PTK Anda hendaknya direncanakan, dilaksanakan dan
dievaluasi secara kolaboratif. Tujuan, metode, pelaksanaan dan strategi
evaluasi hendaknya Anda negosiasikan dengan pemangku kepentingan (stakeholders)
terutama penelitian Anda, sejawat, murid-murid, dan kepala sekolah (yang
mungkin diperlukan dukungan kebijakannya).
6. PTK Anda hendaknya bersifat antardisipliner, yaitu
sedapat mungkin didukung oleh wawasan dan pengalaman orang-orang dari
bidang-bidang lain yang relevan, seperti ilmu jiwa, antropologi, dan sosiologi
serta budaya. Jadi Anda dapat mencari masukan dari teman-teman guru atau dosen
LPTK yang relevan.
Dalam PTK, butir-butir pelaksanaan di
bawah harus dipertimbangkan (Burns, 1999: 207-208):
1.
Anda sebagai pelaku PTK
hendaknya berupaya memperoleh keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan
untuk melaksanakannya. Upayakan mendapatkan dari pemimpin dukungan dan bantuan
secara terus menerus dalam tahap-tahap pelaksanaan, diseminasi, dan
tindak-lanjut penelitiannya.
2.
PTK Anda selayaknya
dilakukan dalam kelas sendiri.
3.
PTK Anda akan berjalan
dengan baik jika terkait dengan program peningkatan guru dan pengembangan
materi di sekolah atau wilayah sendiri.
4.
PTK Anda hendaknya dipadukan
dengan komponen evaluasi.
Dalam tahap diseminasi PTK perlu
dipertimbangkandua butir berikut (Burns, 1999: 208)
1.
Bentuk pelaporan hasil
penelitian tindakan ditentukan oleh audiens sasaran. Jika audiens sasarannya
adalah guru-guru bahasa Inggris di SD, misalnya, bentuk laporannya berbeda
dengan jika audiens sasarannya adalah pendidik guru bahasa Inggris di
universitas.
2.
Jaringan kerja dan mekanisme
yang tersedia di dalam lembaga pendidikan Anda hendaknya digunakan untuk
menyebarkan hasil penelitian terkait. Misalnya, penyebaran hasil
penelitian dilakukan lewat simposium guru, sarasehan MGMP, atau seminar daerah.
Kelebihan dan Kelemahan PTK Kolaboratif
Apa kelemahan dan kelebihan PTK? Kelebihannya seperti dikatakan Burns (1999: 13)
sebagai berikut. Proses penelitian kolaboratif memperkuat kesempatan bagi hasil
penelitian tentang praktik pendidikan untuk diumpanbalikkan ke sistem
pendidikan dengan cara yang lebih substansial dan kritis. Proses tersebut
mendorong guru untuk berbagi masalah-masalah umum dan bekerja sama sebagai
masyarakat penelitian untuk memeriksa asumsi, nilai dan keyakinan yang sedang
mereka pegang dalam kultur sosio-politik lembaga tempat mereka bekerja. Proses kelompok dan tekanan kolektif
kemungkinan besar akan mendorong keterbukaan terhadap perubahan kebijakan dan
praktik. Penelitian tindakan kolaboratif secara potensial lebih memberdayakan
daripada penelitian tindakan yang dilakukan secara individu karena menawarkan
kerangka kerja yang mantab untuk perubahan keseluruhan.
Selain itu, ada kelebihan lain dari PTK kolaboratif (Wallace, 1998: 209-210):
(1) kedalaman dan cakupan, yang artinya makin
banyak orang terlibat dalam proyek penelitian tindakan, makin banyak data dapat
dikumpulkan, apakah dalam hal kedalaman (misalnya studi kasus kelas
bahasa Inggris) atau dalam hal cakupan (misalnya beberapa studi kasus
suplementer; populasi yang lebih besar), atau dalam keduanya dan ini disebabkan
makin banyak perspektif yang digunakan akan makin intensif pemeriksaan
terhadap data atau makin luas cakupan persoalan dalam hal tim peneliti saling
berkolaborasi dalam meneliti kelasnya masing-masing; (2) Validitas dan reliabilitas, yaitu
keterlibatan orang lain akan mempermudah penyelidikan terhadap satu persoalan
dari sudut yang berbeda, mungkin dengan menggunakan teknik penelitian yang
berbeda (yaitu menggunakan trianggulasi); dan (3) Motivasi yang timbal
lewat dinamika kelompok yang benar, di mana bekerja sebagai anggota tim lebih
bersemangat daripada bekerja sendiri.
Kelemahan terbesar PTK
kolaboratif terkait dengan sulitnya mencapai keharmonisan kerjasama
antara orang-orang yang berlatar belakang yang berbeda. Hal ini dapat
dipecahkan dengan membicarakan aturan-aturan dasar (Wallace, 1998: 210),
seperti yang tersirat dalam pertanyaan-pertanyaan berikut: Apa yang akan kita
lakukan? Mengapa kita
menangani masalah ini? (Apakah kita memiliki motivasi yang sama, atau motivasi
yang berbeda?) Bagaimana kita akan melakukannya? (Siapa melakukan apa dan
kapan?) Berapa banyak waktu masing-masing dari kita akan siap dihabiskan untuk
keperluan ini? Berapa sering kita akan bertemu, di mana dan kapan? Apa hasil
akhir yang diharapkan? (Suatu ceramah atau artikel; atau sekadar pengalaman
yang sama?)
Last modified: Monday, 9 April 2007, 11:41 AM
PENELITIAN
TINDAKAN KELAS
Oleh : Prof. Dr. Suwarsih Madya
Bagian
II
Proses Dasar
Penelitian Tindakan
Seperti
telah diuraikan sebelumnya, PTK bersifat partisipatori dan kolaboratif, yang
dilakukan karena ada kepedulian bersama terhadap situasi pembelajaran kelas
yang perlu ditingkatkan. Anda bersama pihak-pihak (sejawat, murid, KS)
mengungkapkan kepedulian akan peningkatan situasi tersebut, saling menjajagi
apa yang dipikirkan, dan bersama-sama berusaha mencari cara untuk meningkatkan
situasi pembelajaran. Anda
bersama kolaborator (sejawat yang berkomitmen) menentukan fokus strategi
peningkatannya. Singkatnya, Anda secara bersama-sama (1) menyusun rencana
tindakan bersama-sama, (2) bertindak dan (3) mengamati secara
individual dan bersama-sama dan (4) melakukan refleksi bersama-sama
pula. Kemudian, Anda bersama-sama merumuskan kembali rencana berdasarkan
informasi yang lebih lengkap dan lebih kritis. Itulah empat aspek pokok dalam penelitian tindakan
(Kemmis dkk, 1982; Burns, 1999), yang selanjutnya diuraikan di bawah ini.
1. Penyusunan Rencana
Rencana PTK merupakan tindakan pembelajaran kelas yang tersusun, dan dari
segi definisi harus prospektif atau memandang ke depan pada tindakan dengan
memperhitungkan peristiwa-peristiwa tak terduga sehngga mengandung sedikit
resiko. Maka rencan mesti cukup fleksibel agar dapat diadaptasikan dengan
pengaruh yang tak dapat terduga dan kendala yang sebelumnya tidak terlihat. Tindakan yang telah direncanakan harus
disampaikan dengan dua pengertian. Pertama,
tindakan kelas mempertimbangkan resiko yang ada dalam perubahan dinamika
kehidupan kelas dan mengakui adanya kendala nyata, baik yang bersifat material
namun bersifat non-meterial dalam kelas Anda. Kedua,
tindakan-tindakan pilih karena memungkinkan para Anda untuk bertindak secara
lebih efektif dalam tahapan-tahapan pembelajaran, secara lebih bijaksana dalam
memperlakukan murid, dan cermat dalam mengamati kebutuhan dan perkembangan
belajar murid.
Pada prinsipnya,
tindakan yang Anda rencanakan hendaknya (1) membantu Anda sendiri dalam (a)
mengatasi kendala pembelajaran kelas, (b) bertindak secara lebih
tepat-guna dalam kelas Anda, dan (c) meningkatkan keberhasilan pembelajaran
kelas; dan (2) membantu Anda menyadari potensi baru Anda untuk melakukan
tindakan guna meningkatkan kualitas kerja. Dalam proses perencanaan, Anda harus
berkolaborasi dengan sejawat melalui diskusi untuk mengembangkan bahasa yang
akan dipakai dalam menganalisis dan meningkatkan pemahaman dan tindakan Anda
dalam kelas.
Rencana PTK Anda hendaknya disusun
berdasarkan hasil pengamatan awal refleksif terhadap pembelajaran kelas Anda. Misalnya, jika Anda adalah guru bahasa
Inggris, Anda akan melakukan pengamatan terhadap situasi pembelajaran kelas
Anda dalam konteks situasi sekolah secara umum dan mendeskripsikan hasil
pengamatan. Dari sini akan mendapatkan gambaran umum tentang masalah yang ada.
Lalu Anda meminta seorang guru bahasa Inggris lain sebagai kolaborator untuk
melakukan pengamatan terhadap proses pembelajaran yang Anda selenggarakan di
kelas Anda; selama mengamati, kolaborator memusatkan perhatiannya pada perilaku
Anda sebagai guru dalam upaya membantu murid belajar bahasa Inggris, dan
perilaku murid selama proses pembelajaran berlangsung, serta suasana
pembelajarannya. Misalnya, hal-hal yang dicatat meliputi: (1) bagaimana guru melibatkan murid-muridnya dari
awal (ketika membuka pelajaran); (2) bagaimana
guru membantu murid-muridnya (a) memahami
isi atau pesan teks, (b) memahami cara
mengungkapkan makna sejenis (cara menyusun kalimat, cara mengeja kata, cara
melafalkan kata yang digunakan untuk makna tersebut), (c)
belajar berkomunikasi dengan menggunakan ungkapan-ungkapan yang telah
dipelajari, (d) membantu murid-muridnya yang
mengalami kesulitan atau yang pasif, (3)
bagaimana guru mengelola kelas, yaitu dalam mengatur tempat duduk, mengontrol
penerangan, mengatur suaranya, mengatur pemberian giliran, mengatur kegiatan; (4) bagaimana guru berpakaian, (5) bagaimana murid menanggapi upaya-upaya guru, (6) sejauh mana murid aktif memproduksi bahasa
Inggris, dan (7) hal-hal lain yang secara
teoretis perlu dicatat, serta (8) suasana
kelas. Hasil pengamatan awal terhadap proses tersebut dituangkan
dalam bentuk catatan-catatan lapangan lengkap (cuplikannya dapat
disajikan dalam laporan dalam bentuk vignette), yang menggambarkan
dengan jelas cuplikan/episode proses pembelajaran dalam situasi nyata.
Kemudian, Anda bersama kolaborator memeriksa catatan-catatan lapangan sebagai
data awal secara cermat untuk mengidentifikasi masalah-masalah yang ada
dan aspek-aspek apa yang perlu ditingkatkan untuk memecahkan masalah praktis
tersebut. Berdasarkan hasil kesepakatan terhadap pencermatan data awal, dan
dipadukan dengan ketersediaan sumber daya, baik manusia maupun non-manusia,
Anda bersama kolaborator menyusun rencana tindakan, sebagai penuntun
pelaksanaan tindakannya.
Rencana tindakan Anda perlu dilengkapi dengan pernyataan tentang
indikator-indikator peningkatan yang akan dicapai. Misalnya, indikator untuk
peningkatan keterlibatan murid adalah peningkatan jumlah murid yang melakukan
sesuatu dalam pembelajaran nahasa Inggris, seperti bertanya, mengusulkan
pendapat, mengungkapkan kesetujuan, mengungkapkan kesenangan, mengungkapkan
penolakan dan sebagainya dalam bahasa Inggris; sedangkan indikator untuk
produksi bahasa Inggris adalah peningkatan jumlah ungkapan (kata/frasa/kalimat)
bahasa Inggris yang diproduksi oleh murid. Disamping itu, perlu juga indikator
kualitatif, misalnya peningkatan keakuratan (lafal dan tatabahasa) dan
kelancaran bahasa Inggris murid dengan deskriptor di masing-masing tingkatan.
Kebersamaan Anda dan kolaborator dalam mengumpulkan data awal, lalu
mencermatinya untuk mengidentikasi masalah-masalah yang ada dan menentukan
tindakan untuk mengatasinya, serta menyusun rencana tindakan, telah memenuhi
tuntutan validitas demokratik.
Pelaksanaan Tindakan
Tindakan hendaknya dituntun oleh rencana yang telah dibuat, tetapi perlu
diingat bahwa tindakan itu tidak secara mutlak dikendalikan oleh rencana,
mengingat dinamikan proses pembelajaran di kelas Anda, yang menuntut
penyesuaian. Oleh karena itu, Anda perlu bersikap fleksibel dan siap mengubah
rencana tindakan sesuai dengan keadaan yang ada. Semua perubahan/penyesuaian
yang terjadi perlu dicatat karena kelak harus dilaporkan.
Pelaksanaan rencana tindakan memiliki karakter perjuangan materiil, sosial,
dan politis ke arah perbaikan. Mungkin negosiasi dan kompromi diperlukan,
tetapi kompromi harus juga dilihat dalam konteks strateginya. Nilai tambah
taraf sedang mungkin cukup untuk sementara waktu, dan nilai tambah ini kemudian
mendasari tindakan berikutnya.
Observasi
Observasi tindakan di kelas Anda berfungsi untuk mendokumentasikan pengaruh
tindakan bersama prosesnya. Observasi itu berorientasi ke depan, tetapi
memberikan dasar bagi refleksi sekarang, lebih-lebih lagi ketika putaran atau
siklus terkait masih berlangsung. Perlu dijaga agar observasi: (1) direncanakan agar (a) ada
dokumen sebagai dasar refleksi berikutnya dan (b)
fleksibel dan terbuka untuk mencatat hal-hal yang tak terduga; (2) dilakukan secara cermat karena tindakan Anda di
kelas selalu akan dibatasi oleh kendala realitas kelas yang dinamis, diwarnai
dengan hal-hal tak terduga; (3) bersifat
responsif, terbuka pandangan dan pikirannya.
Apa yang diamati dalam PTK adalah (1)
proses tindakannya, (b) pengaruh tindakan (yang
disengaja dan tak sengaja), (c) keadaan dan
kendala tindakan, (d) bagaimana keadaan dan
kendala tersebut menghambat atau mempermudah tindakan yang telah direncanakan
dan pengaruhnya, dan (e) persoalan lain yang
timbul.
Refleksi
Yang dimaksud dengan refleksi adalah mengingat dan merenungkan kembali
suatu tindakan persis seperti yang telah dicatat dalam observasi. Lewat
refleksi Anda berusaha (1) memahami proses,
masalah, persoalan, dan kendala yang nyata dalam tindakan strategik, dengan
mempertimbangkan ragam perspektif yang mungkin ada dalam situasi pembelejaran
kelas, dan (2) memahami persoalan pembelajaran
dan keadaan kelas di mana pembelajan dilaksanakan. Dalam melakukan refleksi,
Anda sebaiknya juga berdiskusi dengan sejawat Anda, untuk menghasilkan
rekonstruksi makna situasi pembelajaran kelas Anda dan memberikan dasar
perbaikan rencana siklus berikutnya.
Refleksi memiliki aspek evaluatif; dalam melakukan refleksi, Anda hendaknya
menimbang-nimbang pengalaman menyelenggarakan pembelajaran di kelas, untuk
menilai apakah pengaruh (persoalan yang timbul) memang diinginkan, dan
memberikan saran-saran tentang cara-cara untuk meneruskan pekerjaan. Tetapi
dalam pengertian bahwa refleksi itu deskriptif, Anda meninjau ulang,
mengembangkan gambaran agar lebih lebih hidup (a) tentang
proses pembelajaran kelas Anda, (b) tentang
kendala yang dihadapi dalam melakukan tindakan di kelas, dan, yang lebih
penting lagi, (c) tentang apa yang sekarang
mungkin dilakukan untuk para siswa Anda agar mencapai tujuan perbaikan
pembelajaran.
PTK Anda merupakan proses dinamis, dengan empat
momen dalam spiral perencanaan, tindakan,
observasi, dan refleksi. Proses dasar
tersebut dapat diringkas sebagai berikut (Kemmis dkk. (1982). Dalam praktik,
proses PTK Anda mulai dengan ide umum bahwa Anda menginginkan perubahan atau
perbaikan pembelajaran di kelas Anda. Inilah keputusan tentang letak di mana
dampak tindakan itu mungkin diperoleh. Setelah memutuskan medannya dan
melakukan peninjauan awal, Anda bersama kolaborator sebagai peneliti tindakan
memutuskan rencana umum tindakan. Dengan menjabarkan rencana umum ke dalam
langkah-langkah yang dapat dilakukan, Anda memasuki langkah pertama, yakni
perubahan dalam strategi yang ditujukan bukan saja untuk mencapai perbaikan,
tetapi juga pemahaman lebih baik tentang apa yang mungkin dicapai kemudian. Sebelum
mengambil langkah pertama, Anda harus lebih berhati-hati dan merencanakan
cara untuk memantau pengaruh langkah tindakan pertama, keadaan kelas Anda, dan
apa yang mulai dilihat oleh strategi dalam praktik. Jika mungkin mempertahankan
pencarian fakta dengan memantau tindakannya, langkah pertama diambil. Pada
waktu langkah itu dilaksanakan, data baru mulai masuk, dan keadaan, tindakan,
dan pengaruhnya dapat dideskripsikan dan dievaluasi. Tahap evaluasi ini menjadi
peninjauan yang segar yang dapat dipakai untuk menyiapkan cara untuk
perencanaan baru (Kemmis dkk., 1982: 6-7). Lihat Gambar 1 di bawah.
Gambar 1 menunjukkan bahwa peneliti mulai melihat masalah dalam kelas
bahasa Inggris yang diampunya, yaitu cara pandang siswa yang kurang benar
terhadap pemelajaran bahasa Inggris. Yaitu, siswa hanya tertarik belajar gramar
dan kosakata dan pasif dalam belajar berkomunikasi dalam bahasa Inggris.
Peneliti memutuskan untuk mengubah cara pandang siswa dengan cara mengaktifkan
siswa melalui pemberian tugas

Gambar 3.1: Proses Dasar Penelitian Tindakan
(Dimodifikasi
dari Burns, 1999: 33).
‘information
gap’ dengan menggunakan permainan dan bermain peran. Tugas ‘information
gap’ merujuk pada tugas di mana terdapat kesenjangan yang mesti ditutup
oleh siswa yang satu dengan cara berkomunikasi dengan siswa lainnya. Teknik
tugas ini mencakup permainan bahasa, bermain peran, dan simulasi, mulai dari
teknik-teknik semi-terbimbing untuk pelajar tingkat pemula dan menengah
sampai teknik bebas (tanpa bimbingan) untuk pelajar tingkat lanjut. Rencana di
atas dilaksanakan dan direkam prosesnya, kemudian berdasarkan data dilakukan
refleksi, yang menghasilkan permasalahan baru, yaitu bahwa hanya sebagian kecil
siswa menjadi aktif dengan tugas ‘information gap’ tersebut, sedangkan
sebagian besar siswa tampak takut salah, cemas dan malu berbicara dalam bahasa
Inggris. Maka, dalam tindakan kedua direncanakan untuk melakukan sesuatu yang
dapat mengurangi rasa takut salah, kecemasan, dan rasa malu. Rencana ini
dilaksanakan dan direkam prosesnya, kemudian dilakukan refleksi untuk melihat
sejauh mana perubahan dicapai lewat tindakan kedua. Begitu seterusnya,
siklus-siklus tindakan berlanjut sampai perubahan yang diinginkan dicapai
dengan catatan bahwa tidak mungkin dicapai ketuntasan perubahan karena situasi
dan kondisi kelas berubah terus secara dinamis.
Persoalan-Persoalan Praktis
Pemrakarsa Peneliti Tindakan
Penelitian tindakan biasanya diprakarsai oleh
orang yang memiliki kepedulian besar terhadap kebutuhan untuk meningkatkan
suatu situasi, misalnya situasi belajar-mengajar di kelas dan situasi
pengelolaan sekolah. Ada dua kelompok orang yang dapat terlibat dalam usaha
kolaborasi penelitian tindakan: (1) kelompok orang yang langsung terlibat dalam
kehidupan situasi terkait, seperti guru dalam situasi belajar-mengajar dan
pimpinan dalam situasi pengelolaan (manajemen), dan (2) kelompok orang yang
memiliki pengetahuan tentang penelitian tindakan dan kemampuan untuk
melaksanakannya, misalnya peneliti dari perguruan tinggi atau lembaga penelitian.
Para guru mungkin merasakan adanya sesuatu yang perlu ditingkatkan tetapi
mungkin tidak begitu mengetahui bagaimana melakukannya. Atau pimpinan suatu
kantor dan stafnya merasa bahwa ada kekuranglancaran dalam komunikasi antara
mereka dan para bawahan mereka sehingga penyelesaian pekerjaan tertentu sering
terhambat tetapi mereka kurang mengetahui bagaimana mengatasi masalah yang
mereka hadapi dalam situasi seperti itu. Dengan berperan sebagai fasilitator,
peneliti mengenalkan penelitian tindakan kepada guru-guru atau pimpinan dan
stafnya sebagai cara untuk meneliti masalah yang telah diidentifikasi oleh para
guru. Kemudian mereka bekerja
sama untuk melaksanakan penelitian tindakan.
Pemilik Penelitian Tindakan
Meskipun suatu penelitian tindakan sering diprakarsai oleh fasilitator,
misalnya seorang konsultan, sebaiknya orang-orang yang langsung dikenai
dan sekaligus ikut serta dalam pelaksanaan penelitian tindakan tsb., dibuat
merasa ikut memilikinya. Rasa ikut memiliki ini akan sangat mempengaruhi kelancaran
dan kualitas pelaksanaan penelitian tsb. Rasa ikut memiliki ini dapat
dikembangkan dengan melibatkan mereka dalam seluruh proses penelitian, yaitu
dari langkah pertama sampai langkah terakhir. Dengan demikian, semua orang yang
terkena dampak penelitian tindakan tersebut akan merasa bahwa penelitian
tindakan tsb., merupakan bagian dari dirinya.
Sasaran Penelitian Tindakan
Penelitian
tindakan bukan merupakan teknik pemecahan masalah, namun dorongan untuk
meneliti praktik secara sistematik yang sering timbul karena ada masalah yang
perlu ditangani lewat tindakan praktis. Jadi penelitian tindakan tidak
cocok digunakan untuk tujuan pengembangan teori karena alasan utama
dilakukannya penelitian tindakan adalah peningkatan praktik dalam situasi kehidupan
nyata.
Data Penelitian Tindakan
Data dalam penelitian tindakan berfungsi sebagai landasan refleksi. Data
mewakili tindakan dalam arti bahwa data itu memungkinkan peneliti untuk
merekonstruksi tindakan terkait, bukan hanya mengingat kembali. Oleh sebab itu,
pengumpulan data tidak hanya untuk keperluan hipotesis, melainkan sebagai alat
untuk membukukan amatan dan menjembatani antara momen-momen tindakan dan
refleksi dalam putaran penelitian tindakan.
Data penelitian tindakan diambil dari suatu situasi
bersama seluruh unsur-unsurnya. Data tersebut dapat berupa semua
catatan tentang hasil amatan, transkrip wawancara, rekaman audio dan/atau video
peristiwa/kejadian, yang dikumpulkan lewat berbagai teknik seperti disebutkan
di bawah. Maka data penelitian tindakan dapat berbentuk catatan lapangan,
catatan harian, transkrip komentar peserta penelitian, rekaman audio,
rekaman video, foto dan rekaman/catatan lainnya.
Analisis Data
Analisis data diwakili oleh
momen refleksi putaran penelitian tindakan. Dengan melakukan refleksi peneliti
akan memiliki wawasan autentik yang akan membantu dalam menafsirkan datanya.
Tetapi perlu diingat bahwa dalam menganalisis data sering seorang peserta
penelitian tindakan menjadi terlalu subyektif, dan oleh karena itu dia perlu
berdiskusi dengan peserta-peserta yang lainnya untuk dapat melihat datanya
lewat perspektif yang berbeda. Dengan kata lain, usaha triangulasi hendaknya dilakukan dengan mengacu
pendapat atau persepsi orang lain.
Akan
lebih bagus jika dalam menganalisis data yang kompleks peneliti
menggunakan teknik analisis kualitatif, yang salah satu modelnya adalah teknik
analisis interaktif yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman (1984: 21-23).
Analisis interaktif tersebut terdiri atas tiga komponen kegiatan yang saling
terkait satu sama lain: reduksi data, beberan (display) data, dan
penarikan kesimpulan.
Reduksi
data merupakan proses menyeleksi, menentukan fokus, menyederhanakan, meringkas,
dan mengubah bentuk data ’mentah’ yang ada dalam catatan lapangan. Dalam proses
ini dilakukan penajaman, pemilahan, pemfokusan, penyisihan data yang
kurang bermakna, dan menatanya sedemikian rupa sehingga kesimpulan akhir
dapat ditarik dan diverifikasi. Misalnya, data tentang proses pembelajaran
kelas bahasa Inggris yang tergambar dalam Vignette 1 di bawah dapat direduksi
dengan menfokuskan perhatian pada apa yang dilakukan guru pada permulaan kelas
(membuka pelajaran), pada bagian utama pembelajaran, dan pada akhir pelajaran
(menutup pelajaran). Pada bagian utama pembelajaran dapat direduksi dengan
menfokuskan perhatian pada apakah ada tindakan guru yang berkenaan,
misalnya, dengan (a) upaya membantu
dan/atau memfasilitasi siswa dalam mamahami makna/isi teks bahasa Inggris sebagai
teks asupan, (b) upaya membantu dan/atau
memfasilitasi siswa dalam memahami aturan tatabahasa yang dipakai untuk
mengungkapkan makna/pesan yang sama, (c) upaya
membantu dan/atau memfasilitasi siswa dalam menggunakan ungkapan yang sama
untuk berkomunikasi, apakah lewat permainan bahasa, bermain peran, atau
simulasi, (d) upaya memotivasi siswa atau
meningkatkan percaya diri siswa dengan memuji siswa yang telah menunjukkan
upaya keras atau kinerja bagus dalam menggunakan bahasa Inggris dan mendorong
siswa yang kehilangan semangat atau percaya diri untuk tetap berupaya, dan (e) upaya membantu siswa untuk meningkatkan kelancaran
berbahasa Inggris serta (f) upaya membantu siswa
untuk meningkatkan keakuratan berbahasa Inggris. Hal lain yang perlu
diperhatikan adalah bagaimana guru mengelola kelas, yang bisa berkenaan dengan
volume suaranya, pandangan mata, gerakan fisiknya, pengaturan tempat duduk, dan
pengelompokan siswa. Dengan mereduksi data tentang proses pembelajaran bahasa
Inggris yang demikian, akan dapat ditarik kesimpulan apakah guru menekankan
pengembangan keterampilan berkomunikasi atau hanya mengajarkan unsur-unsur
bahasa seperti struktur, kosakata, lafal, dan ejaan, atau hanya menekankan
keterampilan membaca tanpa menghiraukan keterampilan berbicara. Juga dapat
disimpulkan bahwa proses pembelajaran dikelola sedemikian rupa sehingga cukup
kondusif bagi terjadinya pembelajaran yang menyenangkan tetapi cukup efektif.
Setelah
direduksi data siap dibeberkan. Artinya, tahap analisis sampai pada pembeberan
data. Berbagai macam data penelitian tindakan yang telah direduksi perlu
dibeberkan dengan tertata rapi dalam bentuk narasi plus matriks, grafik,
dan/atau diagram. Pembeberan data yang sistematik, interaktif, dan inventif
serta mantab akan memudahkan pemahaman terhadap apa yang telah terjadi sehingga
memudahkan penarikan kesimpulan atau menentukan tindakan yang akan dilakukan
selanjutnya.
Seperti
layaknya yang terjadi dalam penelitian kualitatif, analisis data dilakukan
sepanjang proses pelaksanaan tindakan penelitian. Penarikan kesimpulan tentang
peningkatan atau perubahan yang terjadi dilakukan secara bertahap mulai dari
kesimpulan sementara, yang ditarik pada akhir Siklus I, ke kesimpulan terevisi
pada akhir Siklus II dan seterusnya, dan kesimpulan terakhir pada akhir Siklus
terakhir. Kesimpulan yang pertama sampai dengan yang terakhir saling terkait
dan kesimpulan pertama sebagai pijakan.
Perlu
dicatat bahwa data yang dikumpulkan tidak hanya terbatas pada data tentang
perubahan yang diharapkan, melainkan juga mencakup data tentang
peningkatan/perubahan yang tak diharapkan (di luar rencana). Maka, kesimpulan
yang ditarik juga harus mencakup perubahan yang direncanakan/diharapkan dan
yang tidak diharapkan sebelumnya. Misalnya, peningkatan/perubahan yang
diharapkan adalah (a) peningkatan keterlibatan siswa dalam pembelajaran bahasa
Inggris, terutama dalam praktik berbahasa Inggris, (b) peningkatan pemahaman
guru peneliti terhadap hakikat proses pembelajaran bahasa Inggris sebagai
bahasa asing, dan (c) peningkatan suasana pembelajaran dari suasana membosankan
menjadi mengasyikkan dan menyenangkan. Namun, ternyata guru peneliti juga
menjadi sadar atas kekurangannya dalam hal kelancaran, ketepatan dan keakuratan
berbahasa Inggris, dan kepala sekolah terkait juga mengalami perubahan sikap,
yaitu dari sikap berpihak pada kelas yang diam/sunyi ke sikap yang menghargai
kelas yang agak bising penuh suara siswa yang praktik berbahasa Inggris,
misalnya seperti yang terjadi dalam penelitian Madya dkk (2002). Pendeknya,
kesimpulan yang dibuat hendaknya mencakup semua perubahan/peningkatan pada diri
peneliti dan anggota penelitian lainnya serta situasi tempat penelitian
dilakukan.
Teknik-Teknik
Pemantauan dalam Penelitian Tindakan
Banyak teknik yang dapat digunakan untuk melakukan
pemantauan dalam penelitian tindakan. Penggunaan setiap teknik tentu saja
ditentukan oleh sifat dasar data yang akan dikumpulkannya. Teknik-teknik yang
dimaksud disajikan berikut ini.
1. Catatan Anekdot
Catatan anekdot adalah riwayat tertulis,
deskriptif, longitudinal tentang apa yang dikatakan atau dilakukan perseorangan
dalam kelas Anda dalam suatu jangka waktu. Deskripsi akurat ditekankan untuk
meenghasilkan gambaran umum yang layak untuk keperluan penjelasan dan
penafsiran. Deskripsi tersebut biasanya mencakup konteks dan peristiwa yang
terjadi sebelum dan sesudah peristiwa yang gayut dengan persoalan yang
diteliti. Metode ini dapat diterapkan pada kelompok dan individu.
2. Catatan Lapangan
Teknik ini sejenis dengan catatan anekdot, tetapi
mencakup kesan dan penafsiran subjektif. Deskripsi boleh mencakup referensi
misalnya pelajaran yang lebih baik, perilaku kurang perhatian, pertengkaran
picik, kecerobohan, yang tidak disadari oleh guru atau pimpinan terkait.
Seperti halnya catatan anekdot, perhatian diarahkan pada persoalan yang
dianggap menarik.
3. Deskripsi Perilaku Ekologis
Teknik ini kurang terarah pada persoalan jika
dibandingkan dengan teknik pertama di atas. Teknik ini berusaha untuk mencatat
observasi dan pemahaman terhadap urutan perilaku yang lengkap. Tingkat-tingkat
deskripsi yang berbeda dapat dipakai, misalnya dalam situasi
belajar-mengajar:
- Kelas dalam suasana serius, tetapi tawa meledak …
- Seorang siswa bernama Toni mendeskripsikan hobinya dalam acara “tunjukkan
dan katakan”
- Dengan kakinya diseret di lantai
dan kedua tangannya saling menggenggam di punggung seorang siswa …
Deskripsi sebaiknya mengurangi
penafsiran psikologis dan terminologis, seperti telah disinggung di atas. Misalnya,
ketika seorang siswa diamati tertawa terbahak-bahak, peneliti tidak boleh
memberi komentar tentang maksud tertawa siswa tersebut. Atau ketika beberapa
siswa menolak mengerjakan tugas, peneliti tidak boleh menafsirkan bahwa
penolakan tersebut karena malas atau alasan lain. Kecenderungan untuk
memberikan penilaian seperti ini banyak dialami oleh peneliti pemula. Mereka
belum terlatih untuk menunda penilaian sampai refleksi dilakukan.
4. Analisis Dokumen
Gambaran tentang persoalan,
sekolah atau bagian sekolah, kantor atau bagian kantor, dapat dikonstruksi
dengan menggunakan berbagai dokumen: surat, memo untuk staf, edaran untuk
orangtua atau karyawan, memo guru atau pejabat, papan pengumuman guru, papan
pengumuman siswa, pekerjaan siswa yang dipamerkan, garis besar, tes formal dan
informal, publikasi siswa atau karyawan, kebijaksanaan, dan/atau peraturan. Dokumen-dokumen ini dapat memberikan
informasi yang berguna untuk berbagai persoalan.
5. Catatan Harian
Catatan harian adalah riwayat pribadi yang
dilakukan secara teratur seputar topik yang diminati atau yang diperhatikan.
Catatan harian mungkin memuat observasi, perasaan, reaksi, penafsiran,
refleksi, dugaan, hipotesis, dan penjelasan. Persoalan mungkin berkisar dari
riwayat tentang pekerjaan siswa atau karyawan individual sampai pemantauan diri
tentang perubahan dalam metode mengajar atau metode pengawasan. Siswa atau
karyawan dapat didorong untuk membuat catatan harian tentang topik yang sama
untuk memperoleh perspektif alternatif.
Catatan
harian dapat digunakan untuk salah satu atau beberapa tujuan berikut:
·
merekam secara teratur
informasi faktual tentang peristiwa, tanggal dan orang, dengan klasifikasi
judul, misalnya Kapan? Di mana? Siapa? Yang mana? Bagamana? Mengapa? Data
yang direkam dapat membantu peneliti merekonstruksi urutan waktu atau peristiwa
sebagaimana terjadi.
·
Aide mémoire untuk merekam
catatan pendek tentang penelitian yang sedang dilakukan untuk refleksi kemudian.
· Memotret
secara rinci peristiwa dan situasi tertentu yang memberikan data deskriptif
lengkap yang akan digunakan untuk laporan lengkap tertulis
· Catatan
introspektif dan evaluatif-diri di mana peneliti mencatat pengalaman,
pemikiran, dan perasaan pribadi dalam rangka memahami penelitiannya.
6.
Logs
eknik ini pada
dasarnya sama dengan catatan harian tetapi biasanya disusun dengan
mempertimbangkan alokasi waktu untuk kegiatan tertentu, pengelompokan kelas,
dan sebagainya. Kegunaannya
ditingkatkan jika mencakup komentar seperti yang terdapat dalam catatan harian
tentang organisasi dan peristiwa lain.
7. Kartu Cuplikan Butir
Teknik ini mirip dengan catatan harian tetapi
sekitar enam kartu digunakan untuk mencatat kesan tentang sejumlah topik, satu
untuk satu kartu. Misalnya: satu set kartu boleh mencakup topik-topik seperti
pendahuluan pelajaran, disiplin, kualitas pekerjaan siswa, efisiensi penilaian,
kontak individual dengan siswa, dan perilaku seorang siswa. Kartunya dikocok
dan catatan harian dibuat untuk satu topik setiap harinya, dan dengan demikian
membangun gambaran tentang semua persoalan sebagai dasar refleksi tanpa resiko
memberikan tekanan terlalu berat atau menimbulkan kebosanan dengan aspek
tertentu.
8. Portfolio
Teknik ini digunakan untuk membuat koleksi bahan
yang disusun dengan tujuan tertentu. Portfolio mungkin memuat hal-hal seperti
tambatan rapat staf yang gayut dengan sejarah suatu persoalan yang diteliti,
korespondensi yang berkaitan dengan kemajuan dan perilaku subyek penelitian,
kliping korespodensi dan surat kabar yang berkaitan dengan persoalan di mana
lembaga tempat penelitian menjadi pusat perhatian khalayak ramai, dan/atau tambatan
rapat staf yang relevan; singkatnya dokumen apa pun yang relevan dengan
persoalan yang diteliti dapat dimuat.
9. Angket
Angket terdiri atas serangkaian pertanyaan
tertulis yang memerlukan jawaban tertulis. Pertanyaan ada dua macam.
a. Terbuka: meminta informasi atau pendapat dengan kata-kata
responden sendiri. Pertanyaan macam ini berguna bagi tahap-tahap eksplorasi,
tetapi dapat menghasilkan jawaban-jawaban yang sulit untuk disatukan. Jumlah
angket yang dikembalikan mungkin juga sangat rendah.
b. Tertutup atau pilihan ganda: meminta responden untuk memilih kalimat
atau deskripsi yang paling dekat dengan pendapat, perasan, penilaian, atau
posisi mereka.
Pertanyaan harus secara cermat diungkapkan
dan tujuannya harus jelas dan tidak taksa (bermakna ganda). Mengujicobakan
pertanyaan dengan teman atau cuplikan (sample) kecil responden akan
meningkatkan kualitasnya. Membatasi lingkup topik yang dicakup merupakan cara
yang bermanfaat untuk meningkatkan jumlah angket yang kembali dan kualitas informasi
yang diperoleh.
10.
Wawancara
Teknik ini
memungkinkan meningkatnya fleksibilitas dari pada angket, dan oleh sebab itu
berguna untuk persoalan-persoalan yang sedang dijajagi daripada yang secara
jelas dibatasi dari mula. Wawancara dapat:
a. Tak terencana: misalnya, omong-omong informal di antara para
pelaku penelitian atau antara pelaku penelitian dan subyek penelitian.
b. Terencana tetapi tak terstruktur: Satu atau dua pertanyaan
pembukaan dari pewancara, tetapi setelah itu pewancara memberikan kesempatan
bagi responden untuk memilih apa yang akan dibicarakan. Pewancara boleh
mengajukan pertanyaan untuk menggali atau memperjelas.
c. Terstruktur: Pewancara telah menyusun serentetan pertanyaan
yang akan diajukan dan mengendalikan percakapan sesuai dengan arah
pertanyaan-pertanyaan.
11. Metode Sosiometrik
Metode ini
digunakan untuk mengetahui apakah individu-individu disukai atau saling
menyukai. Pertanyaan-pertanyaan sering diajukan dengan niat untuk mengetahui
dengan siapa subyek tertentu ingin bekerja sama, atau berhubungan dalam suatu
kegiatan bersama. Pertanyaan juga mungkin berusaha mengungkapkan dengan siapa
subyek tertentu tidak suka bekerja sama atau berhubungan. Hasilnya biasanya
diungkapkan dengan diagram pada sosiogram, seperti pada Gambar 2. 1 di bawah, yang mencatat hubungan seluruh
kelompok.

Gambar 2.1: Sosiogram Kelompok Delapan Orang
12. Jadwal dan daftar tilik (checklist)
interaksi
Kedua teknik ini dapat digunakan oleh peneliti
atau pengamat. Teknik-teknik ini boleh berdasarkan waktu, atau berdasarkan
peristiwa, yang pencatatannya dilakukan kapan saja peristiwa tertentu terjadi.
Berbagai perilaku dicatat dalam kategori waktu perilaku itu terjadi untuk
membangun gambaran tentang urutan perilaku yang diteliti. Misalnya dalam
situasi sekolah, kategori jadual dan daftar tilik (checklist) dapat
menunjuk pada:
- Perilaku verbal guru: misalnya bertanya, menjelaskan, mendisiplinkan
(individu atau kelompok), memberi contoh melafalkan kata/frasa/kalimat
- Perilaku verbal siswa: misalnya, menjawab, bertanya, menyela, berkelakar,
mengungkapkan diri, menyanggah, menyetujui.
- Perilaku nonverbal guru: misalnya, tersenyum, mengerutkan kening, memberi
isyarat, menulis, berdiri dekat siswa pandai, duduk dengan siswa lamban.
Perilaku
nonverbal siswa:
misalnya menoleh, mondar-mandir, menulis, menggambar, menulis cepat, tertawa,
menangis, mengerutkan dahi, mengatupkan bibir.
13.
Rekaman pita
Merekam berbagai peristiwa seperti pelajaran,
rapat diskusi, seminar, lokakarya, dapat menghasilkan banyak informasi yang
bermanfaat yang tertakluk (tunduk) pada analisis yang cermat. Metode ini
khususnya berguna bagi kontak satu lawan satu dan kelompok kecil di mana
perekam jinjing dapat digunakan atau analisis satu perilaku dapat dilakukan.
Jika transkripsi ekstensif diperlukan, prosesnya mungkin menjadi sangat panjang
dari segi waktu.
14.
Rekaman video
Perekam video dapat dioperasikan oleh peneliti
untuk merekam satuan kegiatan/peristiwa untuk dianalisis kemudian, misalnya kegiatan
pembelajaran di kelas. Akan lebih baik jika satuan rekamannya pendek karena
pemutaran ulang akan memakan waktu. Bila ada asisten yang membantu, lebih
banyak perhatian dapat diberikan pada reaksi dan perilaku subyek secara
perorangan (guru dan siswa), yang aspek-aspeknya disepakati sebelum perekaman.
Peneliti sendiri dapat merekam aspek tertentu dari pelaksanaan pekerjaannya
sendiri. Subyek-subyek terpilih mungkin juga dapat merekam beberapa aspek
pelaksanaan pekerjaan mereka untuk dianalisis kemudian.
15.
Foto dan slide
Foto dan slide mungkin berguna untuk merekam
peristiwa penting, misalnya aspek kegiatan kelas, atau untuk mendukung bentuk
rekaman lain. Peneliti dan pengamat boleh menggunakan rekaman fotografik.
Karena daya tariknya bagi subyek penelitian, foto dapat diacu dalam wawancara
berikutnya dan diskusi tentang data.
16.
Penampilan subyek penelitian pada kegiatan penilaian
Teknik ini digunakan untuk menilai prestasi, penguasaan, untuk mendiagnosis
kelemahan dsb. Alat penilaian tersebut dapat dibuat oleh peneliti atau para
ahlinya. Pemilihan teknik pengumpulan data ini tentu saja disesuaikan dengan
jenis data yang akan dikumpulkan.
Pemilihan teknik pengumpulan data hendaknya dipilih sesuai dengan cirri khas
data yang perlu dikumpulkan untuk mendukung tercapainya tujuan penelitian.
Untuk keperluan trianggulasi, data yang sama dapat dikumpulkan dengan teknik
yang berbeda.
Prinsip-prinsip
Etis Proses Penelitian Tindakan
Peneliti tindakan, sebagai
praktisi, melakukan penelitian untuk mencapai peningkatan dirinya dan
peningkatan situasi bersama orang-orang di dalamnya. Dengan kata lain, peneliti
tindakan melakukan penelitian untuk mempengaruhi orang lain menuju
peningkatan/perbaikan yang diinginkan. Dalam hal ini hendaknya dia melakukan
perubahan tersebut dengan cara yang etis. Di bawah akan disajikan uraian
singkat tentang prinsip-prinsip etika yang perlu diterapkan dalam melakukan penelitian
tindakan (McNiff, Lomax dan Whitehead, 2003).
Kelengkapan Dokumen
Peneliti tindakan hendaknya
membagikan dokumen etika ke semua peserta penelitian. Dokumen etika tersebut
mencakup pernyataan etika dan surat ijin. Ketika melaporkan
hasil penelitian, kedua dokumen ini perlu dilampirkan tetapi semua nama orang
dan nama organisasi harus ditutup (disembunyikan). Pada surat ijin, harus juga
ditutup nama, alamat dan tanda tangan yang ada.
Negosiasi Akses
a. Dengan Yang Berwenang
Pelaku PTK hendaknya menghubungi
kepala sekolah dan pimpinan lain sebelum melakukan penelitian. Peneliti
hendaknya juga memperoleh persetujuan tertulis tentang hal-hal yang boleh dan
yang tidak boleh dilakukan. Jika ada perubahan rencana atau hal lain, peneliti
hendaknya memberitahukan perubahan ini kepada pimpinan terkait dan minta
ijin untuk meneruskan penelitian dengan perubahan tersebut.
b. Dengan Peserta
Pelaku PTK hendaknya minta
persetujuan kepada sejawat orang-orang yang diharapkan akan terlibat dalam
penelitiannya. Mereka hendaknya secara terus menerus diberi informasi tentang
penelitian tersebut. Mereka hendaknya diyakinkan bahwa mereka adalah
peserta penelitian dan peneliti-pendamping, bukan sekedar ’subjek garapan’.
Peneliti hendaknya meyakinkan bahwa dia meneliti dirinya sendiri dalam
kaitannya dengan mereka. Hal ini hendaknya dijelaskan
sesering mungkin bila diperlukan untuk membuat mereka
merasa enak dengan apa pun yang dikerjakan peneliti. Karena mereka ini
merupakan sumber daya yang berharga, mereka perlu diperlakukan dengan
hati-hati.
c. Dengan Orangtua atau Wali
Murid
Karena PTk Anda melibatkan siswa, Anda hendaknya
minta ijin kepada orangtua mereka. Surat permohonan ijin sebaiknya dikirim ke
rumah mereka. Apabila orangtua mengalami kesulitan membaca, Anda sebaiknya
memberi penjelasan lisan. Anda hendaknya berupaya agar orang-orang terkait
mendukungnya dari permulaan dan hendaknya kepercayaan mereka dijaga dengan
baik.
3.
Menjaga Kerahasiaan
a.
Kerahasiaan
Informasi
Anda sebagai peneliti hendaknya menyatakan dengan
tegas bahwa Anda hanya akan menggunakan informasi yang termasuk wilayah
publik dan yang sesuai dengan aturan perundangan yang berlaku. Anda juga harus
menegaskan bahwa informasi yang bersifat pribadi tidak akan dilaporkan. Jika
ada informasi yang sensitif yang akan digunakan, peneliti hendaknya minta
ijin kepada sumber informasi tersebut.
b.
Kerahasiaan
Identitas
Anda sebagai peneliti tindakan hendaknya tidak
menyebut nama orang atau tempat kecuali telah mendapatkan ijin untuk
menyebutnya dalam laporan. Anda juga tidak boleh menyebut nama fiktif karena
nama tersebut mungkin sama dengan nama milik orang lain. Untuk identitas
peserta, sebaiknya peneliti menggunakan inisial, nomor atau simbol lain. Jika
mempeoleh ijin tertulis dari organisasi atau lembaga terkait, Anda boleh
menyebut nama organisasi atau lembaga tersebut.
c.
Kerahasiaan
Data
Jika Anda sebagai peneliti bermaksud menggunakan
data asli seperti transkrip, atau saripati dari rekaman video, hendaknya
Anda mengecek pada pemiliknya untuk keberterimaannya dan hendaknya dia minta
ijin kepada mereka. Anda hendaknya selalu minta sumber data untuk
mengecek keakuratan informasi dan menyunting transkrip untuk mengecek
kontribusi mereka. Anda hendaknya juga minta orang lain untuk membaca versi
deskripsinya tentang peristiwa-peristiwa yang diteliti sebelum diterbitkan.
d.
Menjamin Hak Peserta untuk Mengundurkan Diri dari Penelitian
Dari waktu ke waktu Anda hendaknya memastikan
bahwa peserta penelitian merasa enak dengan prosedur penelitian dan bebas
bersikap dalam penelitian terkait. Mereka perlu diberitahu bahwa
hak-haknya dilindungi dan bahwa mereka bisa mengundurkan diri jika menghendaki,
dan semua data tentang mereka akan dimusnahkan setelah pengunduran diri mereka.
e.
Menjaga Kode Etik Profesional dan Akademik
Pengumpulan data dan pembuatan laporan PTK Anda
lakukan dengan memenuhi persyaratan akademik dan profesional. Perekaman
perkuliahan atau kegiatan kelompok hendaknya dilakukan dengan ijin. Ketika
mewawancari orang, Anda hendaknya menjelaskan bagaimana data akan digunakan dan
tepati komitmen ini. Ketika membuat laporan, Anda hendaknya mengakui kontribusi
intelektual orang lain dan tidak menggunakan perkataan orang lain tanpa
pengakuan. Sebagai pelaku PTK, Anda hendaknya selalu ingat bahwa meneliti
adalah pekerjaan profesional yang menuntut komitmen kerja keras dan tanggung
jawab pribadi.
f. Jaga Kepercayaan
Dari awal Anda
hendaknya meyakinkan orang-orang yang terlibat dalam penelitiannya bahwa
dia dapat dipercaya, dan akan menepati janji tentang negosiasi, kerahasiaan dan
pelaporan. Anda hendaknya selalu melakukan pengecekan bilaman ragu-ragu atau
ada kesalahpahaman. Selain itu, Anda hendaknya melindungi orang lain dan juga
diri Anda.
Last modified: Monday, 9 April 2007, 11:39 AM
PENELITIAN
TINDAKAN KELAS
Oleh : Prof. Dr. Suwarsih Madya
Bagian
III
Ada beberapa langkah yang hendaknya diikuti
dalam melakukan penelitian tindakan (lihat misalnya Cohen dan Manion, 1908;
Taba dan Noel, 1982; Winter, 1989). Langkah-langkah tersebut adalah sebagai
berikut: (1) mengidentifikasi dan merumuskan
masalah; (2) menganalisis masalah; (3) merumuskan hipotesis tindakan; (4) membuat rencana tindakan dan pemantauannya; (5) melaksanakan tindakan dan mengamatinya; (6) mengolah dan menafsirkan data; dan (7) melaporkan.
Secara alami, langkah-langkah itu
biasanya tidak terjadi dalam alur yang lurus. Apabila terjadi perubahan masalah
pada waktu dilakukan analisis masalah, maka diperlukan identifikasi masalah
yang baru. Data diperlukan untuk memfokuskan masalahnya dengan mengidentifikasi
faktor penyebab, dalam menentukan hipotesis tindakan, dalam evaluasi dsb.
1. Identifikasi dan Perumusan Masalah
Seperti
telah disinggung di muka, PTK Anda dilakukan untuk mengubah perilaku Anda
sendiri, perilaku sejawat dan murid-murid Anda, atau mengubah kerangka kerja,
proses pembelajaran, yang pada gilirannya menghasilkan perubahan pada perilaku
Anda dan sejawat serta murid-murid Anda. Singkatnya, PTK Anda lakukan untuk
meningkatkan praktik pembelajaran Anda. Contoh-contoh bidang garapan PTK:
1) metode mengajar, mungkin
mengganti metode tradisional dengan metode penemuan;
2) strategi belajar,
menggunakan pendekatan integratif pada pembelajaran daripada satu gaya belajar
mengajar;
3) prosedur evaluasi, misalnya
meningkatkan metode dalam penilaian kontinyu/otentik;
4) penanaman atau perubahan sikap
dan nilai, mungkin mendorong timbulnya sikap yang lebih positif terhadap
beberapa aspek kehidupan;
5) pengembangan profesional
guru misalnya meningkatkan keterampilan mengajar, mengembangkan metode
mengajar yang baru, menambah kemampuan analisis, atau meningkatkan kesadaran
diri;
6) pengelolaan dan kontrol, pengenalan
bertahap pada teknik modifikasi perilaku; dan
7) administrasi, menambah efisiensi
aspek tertentu dari administrasi sekolah (Cohen dan Manion, 1980: 181).
a. Identifikasi masalah
Seperti dalam jenis penelitian lain, langkah
pertama dalam penelitian tindakan adalah mengidentifikasi masalah. Langkah ini
merupakan langkah yang menentukan. Masalah yang akan diteliti harus dirasakan
dan diidentifikasi oleh peneliti sendiri bersama kolaborator meskipun dapat
dengan bantuan seorang fasilitator supaya mereka betul-betul terlibat dalam
proses penelitiannya. Masalahnya dapat berupa kekurangan yang dirasakan dalam
pengetahuan, keterampilan, sikap, etos kerja, kelancaran komunikasi, kreativitas,
dsb. Pada dasarnya, masalahnya berupa kesenjangan antara kenyataan dan keadaan
yang diinginkan.
Masalahnya hendaknya bersifat
tematik seperti telah disebutkan di atas dan dapat diidentifikasi dengan
pertolongan tabel dua arah model Aristoteles. Misalnya dalam bidang pendidikan,
ada empat sel lajur dan kolom, sehubungan dengan anggapan bahwa ada empat
komponen pokok yang ada di dalamnya (Schab, 1969) yaitu: guru, siswa, bidang
studi, dan lingkungan. Semua komponen tersebut berinteraksi dalam proses
belajar-mengajar, dan oleh karena itu dalam usaha memahami komponen tertentu
peneliti perlu memikirkan bubungan di antara komponen-komponen tersebut.
Berikut adalah beberapa
kriteria dalam penentuan masalah: (a) Masalah
harus penting bagi orang yang mengusulkannya dan sekaligus signifikan dilihat
dari segi pengembangan lembaga atau program; (b) Masalahnya
hendaknya dalam jangkauan penanganan. Jangan sampai memilih masalah yang
memerlukan komitmen terlalu besar dari pihak para penelitinya dan waktunya
terlalu lama; (c) Pernyataan masalahnya harus
mengungkapkan beberapa dimensi fundamental mengenai penyebab dan faktor,
sehingga pemecahannya dapat dilakukan berdasarkan hal-hal fundamental ini
daripada berdasarkan fenomena dangkal.
Berikut ini beberapa contoh masalah yang
diidentifikasi sebagai fokus penelitian tindakan: (1)
rendahnya kemampuan mengajukan pertanyaan kritis di kalangan mahasiswa; (2) rendahnya ketaatan staf pada perintah atasan; (3) rendahnya keterlibatan siswa dalam proses
pembelajaran bahasa Inggris; (4) rendahnya
kualitas pengelolaan interaksi guru-siswa-siswa; (5) rendahnya
kualitas pembelajaran bahasa Inggris ditinjau dari tujuan mengembangkan
keterampilan berkomunikasi dalam bahasa tersebut; dan (6)
rendahnya kemandirian belajar siswa di suatu sekolah menengah atas.
Masalah hendaknya diidentifikasi melalui
proses refleksi dan evaluasi, yang dalam model Kemmis dan Taggart disebut reconnaissance,
terhadap data pengamatan awal. Masalah rendahnya kualitas pembelajaran bahasa
Inggris ditinjau dari tujuan mengembangkan keterampilan berkomunikasi dalam
bahasa tersebut (lihat nomor 5 di atas) diidentifikasi berdasarkan hasil
pengamatan awal terhadap proses pembelajaran bahasa Inggris di kelas. Sebagai
contoh, cuplikan proses pembelajaran bermasalah tersebut disajikan dalam Gambar
3.1 di bawah ini.
Ketika guru masuk kelas, pada jam 7 pagi, 5 Agustus
2002, murid-murid kelas IV SD itu sangat ribut. Beberapa mondar-mandir di
depan kelas, beberapa berkelakar, dan yang lain bercakap-cakap satu sama
lainnya. Sadar gurunya sudah datang mereka terdiam dan mencari meja
masing-masing. Mereka lalu duduk manis, tangan di meja, dengan tangan kanan
menumpangi tangan kiri. Guru memberi salam, “Good morning, children.”
Murid-murid
menjawab, “Good morning, Mam.” “Is anybody absent?” Tidak ada yang
menjawab. Lalu dia mengulangi pertanyaan dalam bahasa Indonesia, “Ada yang
tidak masuk?” Mereka saling berpandangan sebentar. “Tidak ada, Bu,” kata
Sutanto, ketua kelasnya. “Bagus. Hari ini kalian akan belajar nama-nama binatang.
Kalian sudah siap?” “Sudah, Bu,” jawab murid-murid serentak. “Good.
Prepare your pens and notebooks. Copy the words from the board.” Tidak
ada yang menanggapi. “Kalian mengerti maksud Ibu?” “Tidak, Bu,” jawab
murid-murid serentak. Guru lalu menyampaikan pesan yang sama dalam bahasa
Indonesia.
Sementara murid-murid menyiapkan buku dan
pena mereka, guru menulis 15 nama binatang dalam bahasa Indonesia di papan
tulis, berderet ke bawah. Setelah selesai, dia berkeliling kelas
melihat-lihat apakah murid-muridnya menulisnya dengan benar ejaannya. Kadang
dia berhenti untuk membantu murid yang mengalami kesulitan.
Setelah murid-murid selesai menuliskan
ke-15 nama binatang tersebut, dia meminta anak-anak melihat papan tulis.
“Siapa yang tahu bahasa Inggrisnya nama binatang-binatang ini?” Sutanto
tunjuk jari. “Bagaimana yang lain?” Tidak ada yang menanggapi. “Baiklah. Apa
yang kamu ketahui, Susanto?” “Saya tahu dua saja, Bu. Kucing disebut /ʧat/ (diucapkan
seperti kalau membaca bahasa Indonesia) dan sapi /ʧow/.” “Coba kamu
tulis dua nama itu di samping nama bahasa Indonesia di papan tulis itu,”
pinta gurunya. “Bagus. Tetapi membacanya tidak begitu.” Dia memberikan contoh
melafalkan kedua nama tersebut secara benar dan minta murid-murid untuk
menirukan bersama-sama. Kemudian dia melengkapi nama-nama 15 binatang dalam
bahasa Inggris. Kemudian dia mengambil alat penunjuk dan minta
murid-murid untuk menirukan guru. Dengan menunjukkan alat itu ke
nama-nama bahasa Inggris binatang di papan tulis satu per satu, dia melafalkan
nama itu dan murid-muridnya menirukannya secara klasikal. Kemudian dia minta
separuh kelas (sisi kanan) menirukan dan separuhnya lagi (sisi kiri)
mendengarkan, dan sebaliknya. Langkah ini diikuti pengecekan secara
individual dengan minta 6 orang murid satu per satu menirukan pelafalan
nama-nama binatang tersebut. Kegiatan terakhir menirukan dilakukan seluruh
kelas. (Lafal guru sempurna).
Lalu guru berkata, ”I like birds. I do
not like cats. Do you like cats, Surti?” Surti diam. “Saya suka burung. Saya
tidak suka kucing. Apakah kamu suka kucing, Surti?” “Tidak, Bu.” “Kamu, Tanto?” “Ya, Bu.” Lalu dia menuliskan di papan
tulis kalimat 1. I like birds. I do not like cats; 2.Tanto
likes cats; 3.Surti does not like cats. Lalu dia menerjemahkan empat kalimat
dalam bahasa Indonesia. Murid-murid diminta menurun empat kalimat tersebut
dalam bukunya dan dia berkeliling kelas untuk memeriksa apakah mereka benar
dalam ejaan. Bebrapa kali dia membantu murid yang salah ejaannya.
Setelah selesai menulis, murid-murid
diminta melihat papan tulis dan membuat dua kalimat sejenis dengan contoh
nomor 1 dan 2 sesuai dengan binatang yang disukai dan tidak disukai. Lalu
sekitar separuh kelas diminta maju satu per satu untuk membaca kalimatnya.
Guru membetulkan lafal yang salah.
Karena waktu sudah habis, guru memberi PR
dengan meminta setiap anak untuk menanyakan 10 teman, boleh teman sekelas
atau kakak/adik kelas binatang apa yang mereka sukai dan tidak sukai di
antara 10 binatang yang ada dalam daftar. Terakhir guru memberi salam
perpisahan dengan mengucapkan, “Good bye,” dan dijawab oleh sebagian murid.
|
Gambar 3.1 Vignette
Pembelajaran Bahasa Inggris Kelas IV SD
Seperti dapat
dilihat dalam Gambar 3.1, guru telah melibatkan siswa dalam kegiatan
pembelajaran. Akan tetapi kegiatannya terbatas pada pembelajaran tentang lafal,
dan terjemahan kata per kata, lalu membuat kalimat terpisah. Tampak bahwa siswa
terlibat aktif, tetapi ditinjau dari sudut pandang pembelajaran bahasa
komunikatif, proses pembelajaran tersebut belum baik karena belum melibatkan
siswa dalam kegiatan menggunakan ungkapan-ungkapan yang dipelajari untuk
berkomunikasi, misalnya lewat permainan dan bermain peran.
Data awal
tersedia dalam beberapa vignette yang dicermati bersama oleh peneliti
dan kolaboratornya dalam suasana terbuka di mana setiap peserta penelitian
mendapatkan hak berbicara sehingga terjadi dialog profesional yang enak. Tentu
saja masalah yang ditemukan tidak mungkin hanya satu; biasanya ada sederet
masalah. Maka, peneliti bersama kolaboratornya perlu membatasi masalah,
atau menentukan fokus penelitian. Dalam kasus pengajaran bahasa Inggris di
atas, kualitas pembelajaran di kelas dianggap sebagai masalah yang perlu segera
dipecahkan agar hasil pembelajaran yang diharapkan dapat dicapai, yaitu
keterampilan menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi. Setelah
ditentukan, masalah perlu dirumuskan.
b. Perumusan masalah
Seperti telah
disebutkan di atas, masalah penelitian tindakan yang merupakan kesenjangan
antara keadaan nyata dan keadaan yang diinginkan hendaknya dideskripsikan untuk
dapat merumuskannya. Pada intinya, rumusan masalah harus mengandung deskripsi
tentang kenyataan yang ada dan keadaan yang diinginkan. Contoh-contoh masalah
di atas akan diberikan contoh rumusannya dalam Tabel 3.1 di bawah.
Seperti dapat dilihat pada Tabel 3.1, dalam rumusan ada deskripsi tentang
keadaan nyata dan deskripsi tentang keadaan yang diinginkan dan kesenjangan
antara dua keadaan tersebut merupakan masalah yang harus diselesaikan dengan
menutupnya melalui tindakan yang sesuai. Bagaimana cara menutupnya? Karena
penelitian tindakan merupakan kegiatan akademik dan profesional, seorang
peneliti perlu mencari wawasan teoretis dari pustaka yang relevan untuk dapat
menentukan cara-cara yang akan digunakan untuk menjawab pertanyaan
penelitiannya. Pustaka yang ditinjau hendaknya mencakup teori-teori dan hasil
penelitian yang relevan. Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa teori
dalam penelitian tindakan bukan untuk diuji, melainkan untuk menuntun peneliti
dalam membuat keputusan-keputusan selama proses penelitian berlangsung. Wawasan
teoretis sangat mendukung proses analisis masalah.
Pada akhir tinjauan pustaka, peneliti tindakan dapat mengajukan hipotesis
tindakan atau pertanyaan penelitian.
2. Analisis Masalah
Analisis masalah perlu dilakukan
untuk mengetahui demensi-dimensi masalah yang mungkin ada untuk mengidentifikasikan
aspek-aspek pentingnya dan untuk memberikan penekanan yang memadai.
Analisis masalah melibatkan beberapa jenis kegiatan, bergantung pada kesulitan
yang ditunjukkan dalam pertanyaan masalahnya; analisis sebab dan akibat tentang
kesulitan yang dihadapi, pemeriksaan asumsi yang dibuat kajian terhadap data
penelitian yang tersedia, atau mengamankan data pendahuluan untuk
mengklarifikasi persoalan atau untuk mengubah perspektif orang-orang yang
terlibat dalam penelitian tentang masalahnya. Kegiatan-kegiatan ini dapat
dilakukan melalui diskusi di antara para peserta penelitian dan fasilitatornya,
juga kajian pustaka yang gayut.
Tabel 3.1: Masalah dan Rumusannya
No.
|
Masalah
|
Rumusan
|
1.
|
Rendahnya kemampuan mengajukan pertanyaan kritis di kalangan mahasiswa
|
Mahasiswa semester 5 mestinya telah mampu mengajukan pertanyaan yang
kritis, tetapi dalam kenyataannya petanyaan mereka lebih bersifat klarifikasi
|
2.
|
Rendahnya ketaatan staf pada perintah atasan
|
Staf di kantor ini mestinya melakukan apa yang diperintahkan atasannya,
tetapi dalam kenyataanya mereka sering sekali melakukan hal-hal yang tidak
diperintahkan
|
3.
|
Rendahnya keterlibatan
siswa dalam proses pembelajaran bahasa Inggris
|
Siswa kelas bahasa Inggris
mestinya terlibat secara aktif dalam kegiatan belajar menggunakan bahasa
Inggris lewat kegiatan yang menyenangkan, tetapi dalam kenyataan mereka
sangat pasif.
|
4.
|
Rendahnya kualitas
pengelolaan interaksi guru-siswa-siswa
|
Pengelolan interaksi
guru-siswa-siswa mestinya memungkinkan setiap siswa untuk aktif terlibat
dalam proses pembelajaran, tetapi dalam kenyataan interaksi hanya
terjadi antara guru dengan beberapa siswa.
|
5.
|
Rendahnya kualitas proses
pembelajaran bahasa Inggris ditinjau dari tujuan mengembangkan keterampilan
berkomunikasi dalam bahasa tersebut
|
Proses pembelajaran bahasa
Inggris mestinya memberi kesempatan kepada siswa untuk belajar menggunakan
bahasa tsb. secara komunikatif, tetapi dalam kenyataannya kegiatan
pembelajaran terbatas pada kosakata, lafal dan struktur.
|
6.
|
Rendahnya kemandirian
belajar siswa di suatu sekolah menengah atas.
|
Kemandirian belajar siswa
SLTP mestinya telah berkembang jika kegiatan pembelajarannya mendukungnya,
tetapi dalam kenyataannya dominasi peran guru telah menghambat
perkembangannya
|
Untuk mempertajam hasil analisis, peneliti dapat berusaha menjawab sebagian
pertanyaan di bawah ini yang dianggap gayut dengan permasalahannya (Kemmis dan
McTaggart, 1988):
a. Apa
hubungan antara individu dan kelompok dalam situasi ini?
b. Apa yang
ditunjukkan oleh situasi ini tentang hubungan antara jati diri individual dan
budayanya?
c. Bagaimana
situasi ini menunjukkan kerja hubungan antara nilai-nilai orang dan kepentingan
diri mereka?
d. Sejauh mana
situasi ini dibentuk oleh kondisi objektif, dan sejauh mana situasi
dibentuk oleh kondisi subjektif (harapan, cara memahami dunia) orang-orang
yang terlibat.
e. Apa yang
ditunjukkan oleh situasi ini tentang kekuatan, khususnya hubungan antara kendali
dan perlawanan?
f. Apa
yang ditunjukkan oleh situasi ini tentang hubungan antara pertentangan dan
perlembagaan?
g. Apa yang
ditunjukkan oleh situasi ini tentang hubungan antara agen manusia
(kapasitas kemauan manusia) dan struktur sosial (kerangka kerja sosial)
yang membentuk dan membatasi kapasitas untuk melaksanakan kemauan?
h. Apa yang
ditunjukkan oleh situasi ini tentang hubungan antara teori dan praktik?
i. Apa
yang ditunjukkan oleh situasi ini tentang hubungan antara proses dan produk?
j. Apa
yang ditunjukkan oleh situasi ini tentang hubungan antara pendidikan dan
masyarakat?
k. Apa yang
ditunjukkan oleh situasi ini tentang hubungan antara reproduksi dan
transformasi?
l. Apa
yang ditunjukkan oleh situasi ini tentang hubungan antara stabilitas (atau
kesinambungan sejarah) dan perubahan (atau keputusan sejarah)?
m. Apa yang ditunjukkan
oleh situasi ini tentang hubungan antara keadaan dan konsekuensi, atau
tentang hubungan antara tujuan dan pencapaian?
Tentu saja
peneliti mungkin dapat menjawab semua pertanyaan di atas atau menjawab semua
pertanyaan secara menyeluruh. Namun daftar pertanyaan ini dapat membantu
peneliti dalam memahami situasi yang ada bersama gejala-gejala yang perlu
diteliti.
Pertanyaan-pertanyaan di atas mungkin akan membuat peneliti merasa miskin
pengetahuan tentang situasi yang akan diteliti sehingga mampu melihat
kekurangan pada dirinya. Kemampuan untuk melihat kekurangan yang ada pada
dirinya adalah salah satu persyaratan bagi keberhasilan penelitian
tindakan itu sendiri, seperti telah disebutkan pada Bab II. Bandingkan siratan
semua pertanyaan di atas dengan komentar yang terkenal dari Isaac Newton
seperti dikutip di bawah ini.
I don’t know what I may appear
to the world, but to myself I seem to have been only a boy playing on the
sea-shore, and diverting myself in now and again finding a smother pebble or
the prettier shell than ordinary, whilst the great ocean of truth lay all
undiscovered before me. ( dalam Kemmis dan McTagart, 1988: 99)
(Saya tidak tahu bagaimana saya ini tampak di dunia,
tetapi saya sendiri merasa hanyalah seorang bocah laki-laki yang bermain di
pantai, dan lari mondar-mandir ke segala arah dari waktu ke waktu untuk
menemukan batu kecil yang lebih halus atau kerang yang lebih cantik dari
biasanya, sementara samudera kebenaran terbentang di depanku penuh rahasia).
3.
Perumusan Hipotesis Tindakan
Hipotesis dalam penelitian tindakan bukan hipotesis perbedaan atau
hubungan, melainkan hipotesis tindakan. Idealnya hipotesis penelitian tindakan
mendekati keketatan penelitian formal. Namun situasi lapangan yang senantiasa
berubah membuatnya sulit untuk memenuhi tuntutan itu.
Rumusan
hipotesis tindakan memuat tindakan yang diusulkan untuk menghasilkan perbaikan
yang diinginkan. Untuk sampai pada pemilihan tindakan yang dianggap tepat,
peneliti dapat mulai dengan menimbang prosedur-prosedur yang mungkin dapat
dilaksanakan agar perbaikan yang diinginkan dapat dicapai sampai menemukan
prosedur tindakan yang dianggap tepat. Dalam menimbang-nimbang berbagai
prosedur ini sebaiknya peneliti mencari masukan dari sejawat atau orang-orang
yang peduli lainnya dan mencari ilham dari teori/hasil penelitian yang telah
ditinjau seblumnya sehingga rumusan hipotesis akan lebih tepat..
Contoh
hipotesis tindakan akan diberikan di sini. Situasinya adalah kelas yang
siswa-siswanya sangat lamban dalam memahami bacaan. Berdasarkan analisis
masalahnya peneliti menyimpulkan bahwa siswa-siswa tersebut memiliki kebiasaan
membaca yang salah dalam memahami makna bahan bacaannya, dan bahwa ‘kesiapan
pengalaman’ untuk memahami konteks perlu ditingkatkan. Maka hipotesis
tindakannya sebagai berikut: “Bila kebiasaan membaca yang salah dibetulkan
lewat teknik-teknik perbaikan yang tepat dan ‘kesiapan pengalaman’ untuk
memahami konteks bacaan ditingkatkan, maka para siswa akan meningkat kecepatan
membacanya.” Apabila setelah dilaksanakan tindakan yang direncanakan dan telah
diamati, hipotesis tindakan ini ternyata meleset dalam arti pengaruh
tindakannya belum seperti yang diinginkan, peneliti harus merumuskan hipotesis
tindakan yang baru untuk putaran penelitian tindakan berikutnya. Dengan
demikian, dalam suatu putaran spiral penelitian tindakan, peneliti merumuskan
hipotesis, dan pada putaran berikutnya merumuskan hipotesis yang lain, dan
putaran berikutnya lagi merumuskan hipotesis yang lain lagi ... begitu
seterusnya, sehingga pelaksanaan tugas terus meningkat kualitasnya.
Untuk
masalah-masalah yang dicontohkan di atas, diberikan contoh rumusan hipotesis
tindakannya dalam Tabel 3.2 di
bawah.
Tabel 3.2: Masalah, Rumusan Masalah dan Hipotesis Tindakan
No
|
Masalah
|
Rumusan
|
Hipotesis Tindakan
|
1.
|
rendahnya kemampuan mengajukan
pertanyaan kritis di kalangan mahasiswa
|
Mahasiswa semester 5
mestinya telah mampu mengajukan pertanyaan yang kritis, tetapi dalam
kenyataannya petanyaan mereka lebih bersifat klarifikasi
|
Jika tingkat kekritisan
pertanyaan mahasiswa dijadikan penilaian kualitas partisipasi mereka setelah
diberi contoh dengan pembahasan-nya, kemampuan mengajukan pertanyaan kritis
mereka akan meningkat.
|
2.
|
rendahnya ketaatan staf pada perintah atasan
|
Staf di kantor ini mestinya melakukan apa yang diperintahkan atasannya,
tetapi dalam kenyataanya mereka sering sekali melakukan hal-hal yang tidak
diperintahkan
|
Jika diterapkan sanksi terhadap ketidaktaatan terhadap perintah atasan
setelah dibahasa akibat buruknya, ketaatan staf terhadap perintah atasan akan
meningkat.
|
3.
|
rendahnya keterlibatan
siswa dalam proses pembelajaran bahasa Inggris dan rendahnya motivasi belajar
mereka
|
Siswa kelas bahasa
Inggris mestinya terlibat secara aktif dalam kegiatan belajar menggunakan
bahasa Inggris lewat kegiatan yang menyenangkan sehingga motivasi belajarnya
tinggi, tetapi dalam kenyataan mereka kurang sekali terlibat sehingga
motivasi mereka rendah.
|
Dengan kegiatan yang
menyenangkan di mana mereka belajar menggunakan bahasa Inggris, keterlibatan
siswa dalam kegiatan belajar akan meningkat, dan begitu juga motivasi belajar
mereka.
|
4.
|
rendahnya kualitas
pembelajaran bahasa Inggris ditinjau dari tujuan mengembangkan keterampilan
berkomunikasi dalam bahasa tersebut
|
Kualitas pembelajaran
bahasa Inggris mestinya tinggi jika kegiatannya terfokus untuk mengembangkan
kemahiran berkomunikasi dalam bahasa Inggris, tetapi dalam kenyataannya focus
terlalu berat pada kegiatan untuk menguasai pengetahuan tentang grammar dan
kosakata bahasa Inggris.
|
Jika kegiatan
pembelajaran difokuskan pada pengembangan kompetensi komunikatif berbahasa
Inggris, kualitas pembelajaran akan meningkat.
|
5.
|
rendahnya kemandirian
belajar siswa di suatu sekolah menengah pertama
|
Kemandirian belajar siswa
SLTP mestinya telah berkembang jika kegiatan pembelajarannya mendukungnya,
tetapi dalam kenyataannya dominasi peran guru telah menghambat
perkembangannya
|
Jika kegiatan
pembelajaran diciptakan untuk memenuhi kebutuhan perkembangan masing-masing
siswa, kemandirian belajar siswa akan meningkat.
|
Untuk melengkapi contoh hipotesis tindakan, berikut disajikan hipotesis
tindakan suatu proyek penelitian tindakan yang dilaporkan oleh Elliott (1988)
seperti disajikan di bawah.
a. Guru tidak mungkin bergeser dari
situasi formal kalau mereka menggunakan pendekatan terstruktur jangka pendek
Yang dimaksud dengan
pendekatan terstruktur jangka pendek adalah pendekatan untuk mencapai tujuan
pengajaran yang telah ditentukan dalam waktu yang singkat. Penggunaan
terstruktur jangka pendek cenderung menceburkan guru ke dalam salah satu dari
dua dilema yang mungkin timbul. Pertama, ada kemungkinan bahwa siswa
menggunakan alur penalaran yang berbeda dengan alur penalaran yang diinginkan
oleh guru. Katakan misalnya, guru telah menentukan waktu yang digunakan untuk
mencapai tujuan. Karena ada perbedaan alur penalaran antara dia dan siswanya,
dia terpaksa mencapai tujuan itu dalam waktu yang lebih lama, atau dia harus
mengendalikan penalaran siswa agar sama dengan alur penalarannya. Jika cara
kedua yang dipilih, ketergantungan intelektual siswa pada posisi orang yang
berwenang pasti bertambah. Kedua, siswa mungkin sama sekali tidak
dapat melakukan banyak penalaran. Lagi-lagi, agar mencapai tujuan dalam waktu
yang ditentukan guru mungkin membimbing siswa ke arah tujuan itu dengan
memberinya terlalu banyak petunjuk. Dalam situasi seperti itu kemungkinan besar
siswa banyak menebak ke arah mana jawaban yang diinginkan oleh guru karena
mereka tidak ingin terlalu menyimpang dari jawaban yang diinginkan oleh guru.
Dengan demikian, siswa mulai kehilangan kemerdekaan penalarannya. Dengan kata
lain, ketergantungan siswa kepada guru meningkat.
b. Untuk menghilangkan
tebak-menebak dan bergeser dari situasi formal ke situasi informal, guru
mungkin harus menahan diri untuk tidak melakukan hal-hal berikut:
1) Mengubah topik
Guru mengubah topik yang
sedang dibicarakan mungkin menghambat siswa dalam mengungkapkan dan
mengembangkan gagasan-gagasannya sendiri karena siswa cenderung menafsirkan
perubahan tersebut sebagai usaha untuk mendapatkan kesesuaian dengan alur
penalaran tertentu.
2) Penguatan positif
Ungkapan tanggapan positif
yang terlalu mantap, seperti ‘bagus’, ‘menarik’, dan ‘betul’ sebagai tanggapan
terhadap gagasan tertentu yang diungkapkan siswa dapat menghalangi pengungkapan
dan pembahasan gagasan-gagasan yang lain karena siswa cenderung menafsirkan
penguatan tersebut sebagai usaha untuk mengesahkan pengembangan gagasan
tertentu saja, dan menutup kemungkinan pengembangan gagasan-gagasan yang lain.
3) Pengajuan pertanyaan kritis secara
selektif
Guru yang mengajukan
pertanyaan yang kritis kepada siswa-siswa tertentu saja dan bukan kepada
siswa-siswa lainnya mungkin menghalangi kelompok siswa pertama untuk
mengembangkan gagasan-gagasannya karena pertanyaan demikian cenderung
ditafsirkan sebagai evaluasi negatif terhadap gagasan-gagasan yang diungkapkan.
4) Pertanyaan dan pernyataan yang mengarah
Pertanyaan dan pernyataan
yang mengandung informasi tentang jawaban yang diinginkan guru mungkin
menghalangi siswa untuk mengembangkan gagasan-gagasan sendiri karena mereka
cenderung menafsirkan tindakan demikian sebagai usaha menghambat atau membatasi
arah pemikiran mereka.
5) Mengundang kesepakatan bulat
Guru menanggapi
gagasan-gagasan siswa dengan pertanyaan seperti ‘Apakah kalian semua setuju?’
atau ‘Apakah ada yang tidak setuju?’ cenderung menghalangi pengungkapan
keragaman pikiran atau pendapat.
6) Urutan pertanyaan/jawaban
Guru yang selalu mengajukan
pertanyaan setelah mendengar jawaban siswa terhadap pertanyaan sebelumnya
mungkin menghalangi siswa untuk mengemukakan gagasan-gagasan mereka sendiri
karena siswa mungkin menafsirkan pola demikian sebagai usaha untuk
mengendalikan masukan dan urutan gagasan.
7) Mengendalikan informasi faktual
Guru yang menyampaikan
informasi faktual secara pribadi, apakah secara lisan atau tertulis, mungkin
menghalangi siswa untuk mengevaluasinya karena siswa cenderung menafsirkan
intervensi demikian sebagai usaha untuk membuat mereka menerima kebenaran.
8) Tidak meminta evaluasi
Guru yang tidak meminta
siswanya untuk mengevaluasi informasi yang mereka pelajari mungkin menghalangi
mereka untuk mengritik karena siswa cenderung menafsirkan situasi tersebut
sebagai hal yang melarang adanya kritik.
c. Guru yang
menggunakan pendekatan terstruktur jangka panjang dalam konteks di mana siswa
secara psikologis bergantung kepada guru lebih kecil kemungkinannya untuk
bergeser dari situasi formal dibandingkan dengan guru yang menggunakan
pendekatan tak terstruktur.
Ketika siswa
sangat bergantung kepada guru secara psikologis, guru mungkin dapat mengurangi
ketergantungan tersebut dengan jalan meyakinkan bahwa mereka tidak dapat
mendapatkan jawaban daripadanya. Pertanda apa pun yang menunjukkan digunakannya
pendekatan terstruktur, meskipun dalam jangka panjang, mendorong mereka untuk
menghabiskan tenaganya untuk medapatkan jawaban dari gurunya. Tentu saja, guru
dapat berusaha meyakinkan siswanya bahwa dia tidak memiliki jawaban yang
diinginkan, tetapi mungkin cara yang baik adalah mengusahakan mencapai
tujuan-tujuan yang tak terstruktur sehingga siswa lebih leluasa dalam
mengembangkan gagasan-gagasan mereka untuk sampai pada jawaban yang diinginkan.
Last modified: Monday, 9 April 2007, 11:31 AM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar